Friday, 13 April 2018

Ngobrol Bareng Dr. Refaat Fauzi

Kami berempat sedang menghabiskan jajan beli di kantin kampus tadi. Duduk di bangku di pinggir jalan, di samping kantin, kami akan berangkat ke Sabi'. Siang itu, rencananya kami akan sowan ke Dr. Refaat Fauzi, seorang ahli fikih, muhaddits, dosen dan ketua jurusan Syariah Islamiyyah di Fakultas Darul Ulum Universitas Kairo. Jadilah kami berangkat. Awalnya, saya ragu untuk melangkah, sebab badan sedang tidak fit. Terlalu sibuk sejak berminggu-minggu lalu, hingga tidur asal-asalan, tidak teratur, dan diktat kuliah pun baru sekali putaran. Ini baru selesai ngedit Bedug edisi 22, setelah ini ngaji Dr. Mehanna di Masjid al-Azhar. Selepas itu, cus ke diktat! Janji, Mid. -_-

Sampailah kami di titik kumpul. Kami berkumpul menunggu rombongan dari Asyir mupun Darrasa, di sebeuha sekolah, Namanya: Madrasah Sayidah Nafisah li al-Tsanawiyyah Banat. Hmm, sejenis Mts apa ya, kalo di Indonesia. Di tembok seberang jalan, tembok sekolah ini maksudnya, ada banya kata-kata mutiara. Di antaranya, 'Tanyalah pada ilmu pengetahuan, sebab ia tidak akan menanyakan pada yang lain'. 'Jangan kau dekati Nil, jika kau berdiam tak menjalankan kewajiban. Ketahuilah, air Nil yang jernih tidak diciptakan untuk mereka (dan dirimu) yang malas-malasan. Ada ayat-ayat al-Quran, seperti surat Nun. Semuanya cantik, semuanya indah. Kaligrafinya mengetuk pintu kesadaran paling bawah sadar siapapun yang melihatnya. Atau yang tak sengaja melemparkan pandangan pada tembok itu ketika melintas menuju Bawwabat, Asyir, Zahra, atau kemanapun mereka pergi membawa diri.

 Kau tau? Sesampainya kami di sana, saya dibuat tercengang. Perpustakaan beliau gede banget nget. Untuk ukuran dosen, ini menurut saya sangat besar dan tidak terbayang betapa beliau kutu buku. Lemari saya di kamar? Yah, enggak ada apa-apanya dengan punya beliau. Lemari saya baru 0,001 lemari buku beliau. Gede ruangnya pun, lebih gede dari rumah kami, hehehe. Saya tidak akan habis membaca itu hingga 60 tahunan, mungkin. Aha, bahkan, took-took buku di sepanjang gang menuju rumah pun, masih jauh berbeda. Sebab, kebanyakan took buku ini hanya satu petak ruangan kamarku, atau paling mentok satu ruangan tamu rumah kami. Temboknya bias diambil dan dibaca. Hehehe. 

Beliau, sependek yang saya tahu ialah dosen di Darul Ulum, Universitas Kairo. Fakultas yang banyak melahirkan cendekiawan Mesir. Fakultas favorit, meski saya belum dan mungkin tidak akan pernah icip-icip belajar di kelasnya. He. Wajahnya teduh. Beliau orang syariah, tapi spesialisasinya Hadits. Beliau banyak menahkik kitab, termasuk yang kemarin kami ijazahan padanya, al-Kalim al-Thayyib punya Ibnu Taimiyyah. Isinya tentang dzikir; keutamaan, macam-macam dan sebagainya. Kami membaca satu fasal, 'Kalian lanjutkan sendiri di rumah', pesannya. 'Atau silakan kalau mau dating, kami membaca ini setiap usai shubuh, setiap pagi kecuali Jumat', tambahnya. 

Sebelum memberi kami ijazah, beliau terlebih dahulu memberikan nasihat, wejangan kepada kami. Ada tiga, pertama takwa. Sebagaimana kita tau, Allah selalu mengabarkan pada kita bahwa jika engkau bertakwa, Aku akan mengajarkan ilmu padamu. Dan, ini mestinya terpatri dalam setiap insan, apalagi penuntut ilmu (katanya). Takwa itu wiqayah, penjagaan. Menjaga diri dari hal yang tidak Allah ridai, menjaga diri dalam senantiasa melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 

Kedua, dzikir. Kita berdzikir, artinya kita mengingat Allah. Dia mengabarkan pada kita bahwa di saat ini, Ia juga akan mengingat kita, bahkan lebih banyak daripada kita mengingatnya. Ia akan bersama dengan-Nya, disadari ataupun tidak. Selain hati menjadi tenang, dzikir ini akan membukakan pintu-pintu gelap dalam diri kita, diajari sama Allah, dekat, dirahmati, dan... bayangkan sendiri jika kita dekat dengan seseorang, kita akan memberikan apapun yang ia minta. Bahakn, jikapun tidak, ia akan memberikan yang terbaik untuk yang dikasihinya. Sempatkan waktu pagi setengah jam, sore seperempat jam, untuk dzikir. Sudah gitu aja, pesannya.

Terakhir, rajin dan tekunlah membaca. Ini... akan panjang. Hehe. Kemarin beliau sempat menyinggung tentang Ibnu Taimiyyah, Wahabiyah, maqashid syariah, perjalanan intelektual beliau dan lainnya masih banyak. 

Beliau mengatakan bahwa, perpustakaan ini dimulai sejak tahun 77an. Karena beliau suka baca, suka beli, dikumpulkan akhirnya. Selama kurang lebih 48 tahun akhirnya jadi seperti apa yang kalian lihat sekarang, tambah beliau.

pukul 11:15 Jumat pagi, sambil antri hammam, dan pasang mood untuk sadar diri: baca diktat.
Ayooo, Mid! Gek ndang lhoo. -__-

Nyuwun pangestu, rencang sedoyo, siapapun yang baca coretan ini. Tapi nggeh ngapunten, saya hanya bias ucap terima kasih doanya, sebab sebaik-baik terima kasih sudah diwakili Allahku. Mangke disampaikan oleh malaikat. Maturnuwun.

Friday, 30 March 2018

Sarapan

Semalam, saya ditanya oleh Kautsar, teman Turki yang pernah saya ceritakan itu. Besok Jumat kosong tidak? Tidak, jawabku. Ada acara kah? Iya. Jam berapa? Bakda Jumatan hingga waktu isya. Dia masih saja mengetik, terus menanyaiku kapan ada waktu luang, ia ingin bertemu. 

Ia memintaku untuk datang ke rumahnya, di Hayy Sabi', pukul 10 waktu Kairo. Awalnya daku mengiyakan, namun tetap saja, sampai di sana pukul 11.30an. Hehe. Sesampainya di minimarket Misr dan Sudan saya menelepon. Menanyakan posisi ia di mana. Ia memberikan arahan untukku berjalan, lurus terus, terus, aku melihatmu, katanya. Terus, ia terus melihatku dari balik jendela flat. Sambil kupegang telepon di telinga kanan, mataku mencari-cari di jendela mana kiranya ia berdiri. Akhirnya saya melihatnya, dan kututup telepon dengan info baru: gedung 13 flat 3/7. Sesampainya di depan gerbag pintu, saya agak kawatir, ini bukan pintunya. Sebab, dilihat dari jenis gerbang, ini pasti flat yang cukup keren. Saya ragu, hingga ada seorang paman yang menanyaiku, 'Mau ke temen mahasiswa?' dengan logat Mesirnya. 'Iya', jawabku. Ini, yang ini pintunya. Kebetulan, sebelum kupencet bel, ada paman lain yang hendak keluar, langsung saya masuk setelah salam. 

Ada di lantai 3, flat 7. Saya pencet bel, dan dibuka oleh Kautsar beberapa saat kemudian. Kami berpelukan erat, layaknya sahabat bertahun tak bersua. Saya langsung dipersilakan duduk, diambilkan minum dan langsung dihidangkan menu. Sepertinya, mereka rela menunggu sarapan jamak ta'khir (plus makan siang) gegara menungguiku. Hehe. 

Menunya, ada teh Turki, semacam syatthah kalo di Mesir tapi ini khas Turki juga. Pancake madu, keju, roti isy, acar dan air putih. Mereka berenam, saya hanya memutar mata mengikuti gerak mereka menyiapkan itu semua. Mereka ramah. 

karena enggak sempat ambil foto, ini saya ambil dari Google, hehe.

Hidangan lesehan itu sederhana, tapi bersahaja. Seperti di film Ertugrul gitu, kitanya melingkar. Menunya di tengah. Makannya sedikit, hehe. Tersu, mereka kalem, enggak ada gelak tawa seperti kita di rumah biasanya. Ohya, piringnya imut-imut, isinya pun beberapa sendok saja. Tersu, gelas tehnya, persis kek di foto di atas. Teh Turki.. Mereka enggak begitu suka kopi. Meski beberapa menit saja di ruangan itu, saya pulang dengan banyak pertanyan, jawaban, tanggapan dan kesan terhadap apa yang saya lihat tadi di sana. Kebersihan, kebersamaa, keindahan, kedisiplinan dan tanggung jawab, ternyata seindah itu. Kita hanya akan menyadari ketika kita dihadapkan dengan perspektif yang lain. Dari sini, jika naluri kesadaran masih cukup asali, kita akan refleks membandingkan dengan ihwal kehidupan keseharian kita, untuk kemudian diperbaiki, biasanya.

Ada enam mahasiswi yang tinggal di situ. Satu dari Albania, ada lagi dari Somalia (atau Nigeria, intinya sebangsa itu) namanya Fatma. Temen Albania tadi namanya Sijina (entah gimana nulis yang bener wkwk), intinya ia wajahnya Turkish banget, tapi ternyata bukan. Ia fasih bahasa Turki karena ia sempat belajar saat di setingkat SMA dulu. Turki punya perwakilan khusus, lembaga yang mengajarkan bahasa di banyak negara dunia. 

Kesan saya saat berada di sana ialah, mereka sangat lembut. Rapi, solid, dan santun. Mereka, meski sesama putri tetap memakai penutup kepala, kecuali satu dari mereka. Pkaiannya khas mahasiswi luar negeri yang sering saya temui di film-film Eropa. Ruang tamunya sebesar aula KSW, hehe. Luas, bersih, teratur dan terlihat kalau penghuninya disiplin. 

Kami sarapan bersama, sambil ngobrol ringan. Seusai sarapan pun, masih kami lanjutkan (dasar cewek wkwk). Ia cerita kalau Dr. Sonia mengirim pesan, menanyakan kabar, dan kangen intinya. Hehe, saya tau bagaimana hubungan keduanya, sangat dekat. Kami saling tukar cerita, meski sering kali saya dibuli karena jarang masuk kuliah. Masalah aja, katanya. :v

Akhirnya, makasih yang terdalam, Kautsar. 
Moga-moga sukses selalu menyertai kita. Aamiin. 
Sarapan tadi, meski saya lagi makan sedikit, bahagia masih banyak tersisa. Hehehe. 

*di 11.58 waktu Kairo, selepas hunting buku di Syari' Mu'izz.

Sunday, 25 March 2018

Tak Terduga

Rabu lalu, 20/3 aku berjalan melewati gang belakang kampus. Kalimat Dr. Muhanna di kelas tasawuf tadi terngiang, mengendap di benak. Ada rasa malu, bahagia, haru dan entah yang bercampur menjadi satu. Sekian lama aku tidak rutin lagi menghadiri majelis ngaji para syekh. Terasa kering jiwa ini. Terlalu sibuk di urusan yang entah, aku menganggapnya semu. Terlalu melelahkan badan dan pikiran, tapi mengeringkan jiwa dan menyuramkan kalbu. Aku, entah seberapa jauh telah menyimpang dari yang dulu pernah aku lalui. Aku menemui diriku yang baru, aneh, kering, sok sibuk, dan kabur, namun aku tak bias banyak berbuat dan mengelak. Aku selalu menjeit pada nurani, sekiranya ia mau mengembalikanku pada apa yang sebenarnya aku pergi mencarinya. 

Aku berjalan menelusuri gang kecil tadi. Agak tergesa, aku menuju salah satu took buku di deret pingggiran gang tadi. Toko buku ini terletak di pinggir kiri jalan dari arah kampus, RS Hussein ataupun Nadi Qaumi. Aku melihat pajangna buku yang tergeletak berjejeran di Tanah, hanya beralaskan kain atau sekadar karton. Beberapa buku telah ada di rak kamarku, namun banyak yang masih belum kupunya. 

Aku menanyakan tentang Hasyiah al-Bayjuri, kitab fikih Imam Syafii. Sang penjual langsung menunjukkan padaku sebuah kitab dua jilid, lembaran kertas kuning, cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyah Beirut. Setelah kutimbang, aku tak jadi mengambil buku tadi. Pertama, aku ingin membandingkan harga dengan toko yang lain. Kedua, aku belum tau, apakah benar buku ini yang dipakai dalam pengajian kitab Habib Ahmad al-Maqdi di Rawdlat al-Naem nanti selepas maghrib. Akhirnya, aku beranjak melihat kitab lainnya. 

Mataku tersangkut pada beberapa tumpukan kitab, ketika seorang pria menanyaiku asal daerah. Cilacap, jawabku. Terus, ia langsung menyambung bahwa ia dari Sulawesi, dan pernah belajar di kampus yang sama sepuluh tahun lalu. Kini, ia ke Mesir sebelum melanjutkan perjalannya umrah ke Tanah Suci. Perawakannya tinggi ramping, rapi, memakai kaos lengan pendek, bertopi dengan tali DSLR melingkar di leher. Ah, ia fotografer ternyata. Entah dalam makna asli, ataupun sekadar suka memotret hal yang dilaluinya untuk diabadikan.

Kutaruh ulang buku Imam Syafii tadi, al-Risalah. Aku belum begitu membutuhkannya. Well, mungkin aku butuh, namun dengan tumpukan kitab yang belum aku baca semua di kamar, aku tidak tega untuk mengambil buku tersebut untuk lantas kuanggurkan selama beberapa minggu, menunggu antrian. Pun, kecenderunganku bukan dalam bidang fikih. Masih saja, aku suka membaca buku-buku tentang filologi, tafsir, al-Quran atau apapun itu yang menurutku menarik. Meski akhir-akhir ini sering membaca buku-buku akidah filsafat, aku belum begitu yakin bahwa aku serius tertarik dengan jurusan ini.

Ia melihatku yang meletakkan kembali buku tadi. Spontan, ia Tanya, "Sudah punya buku ini?" Belum, kataku. "Ayo ambil ini, ambil. Penting ini, harus diambil. Biar saya yang bayar." Eh eh ndak usah, Mas. "Udah gakpapa, aku bayar." Dengan sigap ia mengambil uang dari dompet, membayar, lantas pergi, menuju kampus. Ia ingin menunjukkan pada bapak yang bersamanya, letak dan bentuk toko buku yang ada di kampus.

Bergegas pergi, aku menyela Tanya, "Mas, jenengan siapa namanya?" Abdillah, jawabnya. Untunglah, aku sudah menebak, jika ia menjawab Abdullah, setidaknya aku tak akan terlalu terganggu dengan film-film beradegan semacam itu. 

Thursday, 7 December 2017

Sebuah Tanya

Mungkin ini termasuk minggu-minggu akhir di kuliah. Hari ini, Kamis 7/12 aku masuk ke ruang kelas selitar pukul 8.30. Telat bangun, karena entah apa, padahal semalam rasanya tidur di jadwal-jadwal biasa. Bedanya, sebelum tidur makan kue dulu, sama nendang-nendang balon, mainan bola ceritanya. Hehe. 

Gegara bangun telat, pun musim dingin, setelah shalat saya bergegas siap-siap. Sarapan sekenanya, terus langsung menuju terminal bus. Senengnya, ada bus Tiga Jim yang sedang bersiap. Itu artinya, aku akan sampai di kampus kurang dari setengah jam. Wah, bahagianya. 

Ruang kelas hari ini sepi. Maklum, mata kukiah semester satu sudah selesai, mayoritas. Pun untuk semester dua sudah dihentikan semua. Akhirnya jam pertama kosong. 

Banyak temen Mesir yang hadir. Mereka selalu rajin ngampus, apapun yang terjadi. Upaya mereka luar biasa. Bayangkan saja, setiap hari keluar mruput ke kuliah, naik kereta bawah tanah (Metro), bus, Tramco selama dua jam minimal perjalanan mereka tempuh. Pulangnya, selalu menunggu akhir kelas, merampungkan tuntas setiap hari di kelas tak mau ada yang ketinggalan satu pun. Yah, ngapain jauh-jauh kalo ngga sekalian pulang sore (bahkan malam), pikir mereka. 

Pagi ini entah mengapa dingin sekali. Sampe jaket kesayangan item panjang ini sesekali aku rapatkan ke badan. Dingin. Kulihat dari jendrla kelas ke luar, ada dedaunan yang bergoyang, bunga kuning yang entah apa namanya, dan mendung. Di sela itu semua, dengung obrolan temen  Mesir memenuhi ruang kelas. Ada yang belajar bareng, ada yang sekadar ngobrol, ada yang tidur (ngga hanya di Indo ternyata) ada yang entah ngapain. Mereka sibuk denga dunianya. 

Senengnya, pagi ini aku ketemu Sara, bisa duduk di deketnya pula. Langsung, kueksekusi diktatnya. Haha. Catatan tambahan dari dosen jadi hadiah tersendiri bagi mahasiswi yang ngga rajin-rajin banget ke kuliah, kek aku. Di tengah nembel catatan, Aisyah manggil: 'Hamidah, gumana kabar?! Kok kamu belum kirim pesan ke aku.' Mak. Aku langsung terenyuh. 

Temen Mesir selalu seneng kalo merasa dibutuhkan wafidat. Yah, mungkin ini tabiat semua orang sih, hanya entah mengapa, di saat-saat begini, mereka sangat dibutuhkan. Kena. Tentunya, dalam hal belajar dan seputar pemahaman diktat, ngga lebih. Kecuali yang memang kita dekat dengannya. 

Pertanyaan itu membuatku berpikir. Mestinya, aku memanfaatkan semua ini. 

Terlalu banyak waktu berlalu hanya dengan omong kosong. 

Semoga Tuhanku memaafkan.

Kampus Putri Gedung B, Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab. 

Friday, 24 November 2017

Sayembara Kecil a la Dr. Sonia



Sebagaimana biasa, hari Kamis menjadi hari istimewa tersendiri bagiku. Tauhid menjadi mata kuliah yang harus kita lalui di jam pertama. Bagiku, absen sekali berarti melewatkan pelajaran dari Dr. Sonia. Jika demikian, berarti saya akan melewatkan banyak momen indah selama beliau mengajar. Akhirnya, Kamis ialah hari yang berharga, apalagi setelah kejadian sepuluh pound lalu. Akan kuingat selamanya. 

Pernah dulu, ketika di bangku tingkat satu, saya punya harapan bagaimana caranya agar bisa berperan aktif di kelas, seperti Kautsar misalnya. Temen asal Turki ini berhasil membuatku merasa iri, sekaligus bahagia karena bisa berteman dengannya. Bisa dibilang, ia mahasiswi pendatang yang paling aktif. Dan Dr. Sonia sangat senang dengan mahasiswi yang aktif. Sehingga, Dr Sonia sangat seneng dengan Kautsar ini. Aku juga. Ah, ini mencoba pake kias mantik model pertama, dua premis yang punya kata/kalimat yang diulang (hadd al-awsath), satu di subjek, mubtada' (mawdlu'), satunya predikat, khabar (mahmul). Aha, belum begitu mantap. Saya belum benar-benar mempelajarinya. Kemarin jam terakhir nggak masuk, karena ada urusan. Heu.

Ceritanya, kemarin saya datang di kelas sekitar pukul delapan lewat setengah. Biasanya, saya ambil tempat duduk di sebelah kiri meja dosen. Karena agak lambat sampai di kelas, akhirnya saya hanya bisa duduk di sebelah kanan agak ke pinggir di deretan pertama. Ah, sudahlah. Yang penting bisa deket dengan meja dosen. Tak apa. Setengah jam kemudian, beliau masuk. Biasanya, beliau selalu memakai layar dan proyektor, dan seperti biasa, kita juga telah menyiapkan layarnya. Namun pagi itu, beliau hendak memberikan satu jenis keterampilan lain, dengan gaya khas di setiap kelas yang diampunya: munaqasyah (diskusi). Jadi, kelas segede itu rasa arena perlombaan debat ilmiah antarkelompok. Wah, bahagia sekali pokoknya. Kelas benar-benar hidup. Tidak monoton. 



Beliau menggulung kembali layar dan memulai kelas. Keterampilan yang ingin beliau ajarkan pagi itu ialah tentang berbicara (tahadduts) dan menelurkan suatu hukum (istinbath) dari buku diktat (muqarrar). Benar saja, PR yang minggu lalu beliau tanyakan dibahas pagi itu. Apakah perbuatan Allah disebabkan oleh suatu tujuan tertentu, ialah poin pembahasan kita kali ini.

Kelas berlangsung dengan sangat antusias, sebagaimana temen-temen Mesir selalu seneng berdebat. Masing-masing berusaha menguatkan pendapatnya dengan dalil, baik aqli maupun dari ayat dan Hadits. Kita membaca secara bergiliran materi yang tertulis di kitab. Satu waktu kita berdebat, satu lagi kita membaca dan menelurkan kesimpulan maksud dari teks yang tertera. Yah, untungnya kali ini kita memakai diktat yang terbilang istimewa. Diktat ini dibuat oleh Dr. Mahmud Ali Daqiqa, seorang anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar disertai rujukan kitab-kitab pokok yang mantap di bidang akidah. Seperti Syarh al-Mawaqif, al-Thawali' , Syarh al-Maqashid li al-Sa'd, Syarh al-'Aqa'id al-Nasafiyyah li al-Nasafiy, dan lain sebagainya. Kitab-kitab babon dari turats Islam. Sampai-sampai seorang senior di magister membuat pernyataan bahwa diktat ini sangat keren. Bahasanya mantap dan ini seperti diktat di dirasat ulya (pascasarjana).

Selepas pertanyaan tadi, kami masuk di pembahasan kenabian (al-nubuwwat). Sampai di subbab perbedaan nabi dan rasul, ada tiga pendapat yang tertera di sana. Pendapat satu dan dua menyatakan bahwa keduanya berbeda, dari segi perintah untuk menyampaikan (tabligh) dan kitab maupun syariat baru yang dibawanya. Pendapat ketiga menyatakan bahwa keduanya mutasawiyan, sama, setara. Di sini beliau menanyakan, apa perbedaan tasawi dan taraduf. Keduanya hampir sama. Bahkan saya pun menganggap bahwa keduanya sama, hanya istilah saja yang membedakan meskipun saya tahu, se-mirip-miripnya istilah dalam bahasa Arab, pasti ada bedanya. Benar saja, aku buka catatan mantik tahun lalu, kudapati kedua pengertian tadi memang berbeda. 

Sebagaimana biasa, Dr. Sonia selalu membuat sayembara di setiap kelasnya. Pun, tak jauh beda dengan kali ini. Siapa dari pelajar pendatang yang mampu menjawab, akan dihadiahi sepuluh pound Mesir. Wah, kebetulan saya baru baca. Hehe. Jadilah saya angkat tangan, dan menjawab. Taraduf (sinonim) ialah kata yang banyak rupanya namun memiliki makna yang sama. Kalau di bahasa Arab, kita mudah sekali bilangnya, seperti burr dan qumh (gandum), asad dan laits (singa). Tasawi ialah hal yang serupa dalam fakta, secara nyata, berbeda dalam pemahaman/konsepnya. Contoh kulliyyah dan jami'ah (universitas), insan dan basyar (manusia). Sontak setelah saya selesai, tepuk tangan memenuhi ruang kelas, Dr. Sonia selalu mengapresiasi seberapa kecilpun upaya yang kita berikan, apalagi bagi pendatang (wafidat). "Mumtaaz, shaffiqna laha ya Banaat."  Begitu kiranya ungkapan beliau.

Hemm. Bahagia, alhamdulillah. Akhirnya harapan saya tahun lalu untuk berperan ngomong di kelas kesampean. Ngomong gitu aja, padahal. Setidaknya, ini bentuk eksistensi bahwa saya ada di kelas saat itu. Saya harus ngomong. Bahwa wafidat juga memahami apa yang dijelaskan oleh dosen. Dalam hal ini, saya merasa Dr. Sonia punya cara menarik dalam melibatkan mahasiswinya di dalam kelas. Peran mahasiswi dalam menghidupkan kelas, bagaimana kita menyanggah pendapat lain, bagaimana kita tettap saling menghormati meski tidak sepakat, bagaimana menjadi pendengar yang baik, pun bagaimana cara menyampaikan yanng baik. Beliau sangat lihai dalam bidang ini. Di samping memang bidang inilah yang beliau tekuni, tak heran jika sangat matang, komprehensif dan sangat memuaskan. Secara tak langsung pula, beliau mendidik kita bagaimana cara berdebat yang baik, sebagaimana ada di buku-buku tentang Adab al-Bahtsi wa al-Munadharah.

Sayangnya, sejauh ini hanya beliau yang mempunyai metode seperti ini. Sangat kontras di rasa. Rasanya tak mau pisah, ingin terus diajar beliau. Mungkin, ustadzah Marwa hampir didahului olehnya, namun tetap saja saya harus menyadari bahwa keduanya ada di ruang lingkup yang berbeda. Dr. Sonia di tingkat universitas, dan usth. Marwa di tingkat pusat bahasa. Sehingga perbedaan objek ilmu yang seperti ini memberi dampak yang signifikan dalam bagaimana seorang guru mengajar dan memeberikan pemahaman. Beberapa menit kemudian, sesaat sebelum kelas usai, saya dipanggil dan diberi sepuluh pound yang tadi dijanjikan beliau. Diiringi tepuk tangan kali kedua. Aha, ternyata begini rasanya ditepuk-tangani temen-temen saat kelasnya Dr. Sonia. Bahagia? Tentu. Namun bahagia ini akan saya buktikan lagi dengan keseriusan dalam belajar dan memahami semua mata kuliah. Insya Allah. 

Saya bahagia, dan tentunya dibumbui rasa-rasa bangga, emm seneng aja gitu. Meski saya sadar, hal tadi sangat tidak seberapa. Karena apa yang saya sampaikan tadi merupakan hasil bacaan, bukan pemahaman. Jika ditanya seberapa paham pun, saya tidak berani menjawab seratus persen. Hanya modal keyakinan bahwa keduanya memang berbeda, namun saya tak bisa menghadirkan perbedaan dan konsep antarkeduanya, jika secara mendadak ditanyakan kepada saya. Maka, ini merupakan hadiah kecil saya di hari itu dari Tuhan. Allah selalu mengabulkan harapan saya. Sejauh ini melalui mata kuliah ini juga, rasanya saya tambah mantep bahwa tak ada apa-apa di saya, kecuali sebab limpahan rahmat-Nya. Bahkan jika kita bilang punya potensi, potensi itu merupakan anugerah dari-Nya, Subhaanahu wa Ta'aala. Dan ini sungguh melegakan. Bahwa saya punya Tuhan yang Mahakuasa, Mahakaya, Maha segala-galanya.

Bagi yang belum mendapat nikmat diajar sama Dr. Sonia, mungkin akan kurang paham bagaimana rasa ceritanya. Maka, saya sarankan: masuklah ke ruang kelas tingkat II Ushuluddin Banat, lantai dua gedung Studi Islam B, depan Fakultas Farmasi. Nanti ketemu saya juga di situ, wkwk. Ga penting banget si. Abaikan abaikan. :D

Dalam lantunan suluk shalat Jumat, Jumat 24 November 2017 di pukul 11.30 WLK. 

Sunday, 19 November 2017

Sekumpulan Pecinta Ahlul Bayt


Terdengar suara seorang ustadzah saat aku melepas sepatu di pintu utama masjid al-Azhar. Suara itu baru kudengar sekali ini, bukan suara Dr. Sonia ataupun lainnya yang pernah kukenal. 

Hari ini, Ahad 19/11/2017 aku bertandamg ke masjid, seusai kelas. Bus 80 coret tadi sebenarnya kosong, sehingga mahasiswi yang telah lama menunggu bergegas  masuk berebut tempat duduk. Bus tepat berhenti di depanku. Pintu terbuka, namun secara tak tertib mereka berebut masuk. Inginnya masuk duluan semua, akhirnya pintu penuh dan kesempatanku masuk duluan pun tertunda. Melihat pintu bus bagian belakang yang sepi, mestinga aku lari kesana. Namun, aku hanya terdiam melihat yang lain berpindah pintu, dan aku tetap menunggu di pintu tadi. Pasrah. Aku yakin aku akan masuk, meski berdiri menjadi suatu kepastian tersendiri. Haha ya Tuhan. Jalani setiap detail momen dengan percaya, maka hati akan tenang. 

Seusai turun dari bus mampir di Zad, sebuah toko roti di seberang terminal bus Darrasah. Menuju ke masjid, untuk sekadar menanggalkan kerinduan. 

Menarik. Sore ini, ada halakah ibu-ibu yang sedang mendalami sejarah Ahlul Bayt. Entah memakai kitab apa, yang jelas, ibu-ibu tadi dipimpin ustadzah yang siaranya terdengar sampai di pintu utama masjid. Beliau mungkin dukturah. Cara penyampaiannya enak, tegas. Di antaranya, mengulang tentang adab di majelis ilmu ialah termasuk tidak sibuk dengan gadget. Ketika itu ada seorang ibu yang sedang berbicara di telepon. 

Kemudian, tentang praktik keteladanan terhadap Ahlul Bayt. Rasul bersabda: "Addibū awlādakum hubba al-Qurān, wa hubba al-Nabiyy, wa hubba Ahli Baytihi". 

Lagi, beliau mengatakan: "Kullama zādat al-madaniyyah, qallat al-shihhah, kullama zādat al-rafāhiyyah, qallat al-ridlā". Semakin madani, semakin berkurang tingkat kesehatan masyarakat. Semakin jatuh dalam kenikmatan, semakin sulit untuk sekadar merelakan. 

Beberapa menit berikutnya, terdengar mikrofon dari ruwaq sebelah. Aha, aku yakin itu suara Dr. Hasan Usman, pengampu nahu di masjid al-Azhar. Kitabnya, Awdlah al-Masālik ilā Alfiyyah Ibni Mālik. Diktat nahu tingkat akhir. Selain ada juga, Syarh Ibnu Aqil di Rabu sore, sebelum jamnya Dr. Muhanna bersama Dr. Rabi' Ghafir. 

Ya Tuhan, mugi selalu diparingi taufik. 
Di bawah langit al-Azhar, di antara kumandang lantunan al-Quran. Rakaat terakhir shalat maghrib. 

Friday, 10 November 2017

Pepeling



Barangkali, mimpi menjadi sebuah momen tersendiri bagi seseorang. Entah disebut sebagai bunga tidur, sebagai refleksi pikir atas apa yang terlintas di dalam benak ketika siang hari, atau sebagai sebuah pertanda. 

Sebagian besar hariku akhir-akhir ini dipenuhi banyak mimpi. Bukan sembarang mimpi, mungkin. Karena entah mengapa, ada banyak hal yang kudapati darinya. Jawaban atas sebuah tanya, penanda atas sebuah perkara, penunjuk atas sebuah rasa, maupun pepeling atas dosa-dosa. Kiranya, yang terakhir inilah yang seringkali datang. 

Jika sebuah laku mempengaruhi segala sesuatu, maka aku tak cukup mendapat sebab untuk mendaku semua itu. Dilihat dari sisi manapun, sepertinya aku belum masuk kualifikasi santri ibu. Barakah shalawat Rasul, juga barakah al-Fatihah untuk Mbah Munawwir, Mbah Ali dan dzurriyyah mungkin, yang selalu memudahkan segala urusan, mengabulkan segala hajatku selama ini. Yarhamuhumullaah. Boten supe setiap ajeng deres, bakda shalat, alhamdulillah. 

Entah ke berapa kalinya, Selasa lalu (sekarang 10/11) ibu datang lagi. Kali itu, kita sedang di arena gerbang utama SMP Alma Ata, tempatku dulu menimba ilmu. Di gerbang situ, ibu dengan gaya khasnya mengajakku simaan, 20 juz. Entah acara apa di sana, intinya hanya poin bahwa ibu ngajak simaan bareng. Heu, dan seperti kali-kali terdahulu, akupun hanya meringis, tanpa mengiyakan maupun menolak. 

Semalem, Kamis (10/11), Syekh Abdullah juga menjumpaiku. Kali ini, aku mengajukan permohonan maaf karena masih ngelibur ngaji, sejak beberapa waktu lalu. Dan, mungkin karena kebangetan, beliau datang berkali-kali, mungkin ini kali ketiga atau keempat dalam dua bulan terakhir ini. Ya Allah, rasanya udah jelas pertanda, tapi terlalu keras hatinya. Belum ada semangat nderes yang menggebu, kendati beliau berdua sampun kerso menyambangiku. 

Bahagia, campur takut, harap-harap beliau berdua kerso mengakui daku sebagai santrinya. 

Beliau berdua datang berseling. Yang paling kuingat, Syekh Abdullah sebulan lalu mungkin, ketika bertemu di samping Azhar, aku salim dengan plegak-pleguk. Beliau hanya senyum, dan tanya mau kemana. Kedua, bertemu lagi di belakang Azhar, beliau menitipkan barang padaku dan memintaku untuk menjaganya sampai beliau kembali. Kemudian, ibu. 

Beliau datang, memintaku simaan entah dalam rangka apa. Rutinan mungkin. Kali itu, settingnya di mushalla komplek. Kemudian setelahnya, ibu memintaku menyelesaikan di sini, sesuai dengan jadwal khataman yang dibarengkan dengan haul, tahun depan sekitaran Februari. Kali ini, beliau ngendikan kalau ngga kesempatan ini sekarang, kapan lagi. Mungkin akan ada suatu hal yang terjadi. Aku hanya berharap, beliau semua baik-baik saja, panjang umur. Ibuk dan Syekh Abdullah. 

Ohya, setahun lalu, Syekh selalu datang di mimpi ketika aku tertidur dan belum sempat nderes. Padahal, waktu itu baru beberapa bulan daku ngaji ke beliau. Namun, beberapa pertemuan tersebut ternyata membuat chemistry yang cukup erat antara daku dan beliau. Ceritanya selalu berputar pada saat ketika aku ngadep dan belum lancar. Lantas beliau dengan jelas (sampai saat ini masih teringat) ngendika: "Dideres sek, ya, Nda. Kono ning buri". Seketika aku terbangun dibuatnya dan menyadari bahwa belum nderes sebelum terlelap tadi. Akupun cerita ke beliau. Beliau hanya tersenyum dan mendoakan dengan tulus: "Baarakallaah fiiik". Ah, adem sekali dengernya. 

Pernah juga, daku meminta untuk binnadzar sebagai sampingan, pun agar aku segera punya sanad, hehe. Beliau ndak kerso, terus dipeseni untuk nderes yang idah disetor aja setiap hari dua juz. 

Dan, kendati demikian, semua mimpi tadi masih tergeletak di sana. Daku belum mampu menangkap pesan, merealisasikan makna yang dikandung di dalamnya. 

Nderese tesih bioso wae. :(
Ya Allah, kerso paringi taufik. 🙏😭

Depan masjid al-Azhar, menuju tempat pulang. 
Jumat, 10/11/2017.

Bapak telah Memilih

 24 Februari 2023 Hari ini, tepat sebulan aku berada di Bangkok. Aku dan suami berangkat ke Thailand 24 Januari lalu. Sebelumnya, 18 Januari...