Friday, 24 November 2017

Sayembara Kecil a la Dr. Sonia



Sebagaimana biasa, hari Kamis menjadi hari istimewa tersendiri bagiku. Tauhid menjadi mata kuliah yang harus kita lalui di jam pertama. Bagiku, absen sekali berarti melewatkan pelajaran dari Dr. Sonia. Jika demikian, berarti saya akan melewatkan banyak momen indah selama beliau mengajar. Akhirnya, Kamis ialah hari yang berharga, apalagi setelah kejadian sepuluh pound lalu. Akan kuingat selamanya. 

Pernah dulu, ketika di bangku tingkat satu, saya punya harapan bagaimana caranya agar bisa berperan aktif di kelas, seperti Kautsar misalnya. Temen asal Turki ini berhasil membuatku merasa iri, sekaligus bahagia karena bisa berteman dengannya. Bisa dibilang, ia mahasiswi pendatang yang paling aktif. Dan Dr. Sonia sangat senang dengan mahasiswi yang aktif. Sehingga, Dr Sonia sangat seneng dengan Kautsar ini. Aku juga. Ah, ini mencoba pake kias mantik model pertama, dua premis yang punya kata/kalimat yang diulang (hadd al-awsath), satu di subjek, mubtada' (mawdlu'), satunya predikat, khabar (mahmul). Aha, belum begitu mantap. Saya belum benar-benar mempelajarinya. Kemarin jam terakhir nggak masuk, karena ada urusan. Heu.

Ceritanya, kemarin saya datang di kelas sekitar pukul delapan lewat setengah. Biasanya, saya ambil tempat duduk di sebelah kiri meja dosen. Karena agak lambat sampai di kelas, akhirnya saya hanya bisa duduk di sebelah kanan agak ke pinggir di deretan pertama. Ah, sudahlah. Yang penting bisa deket dengan meja dosen. Tak apa. Setengah jam kemudian, beliau masuk. Biasanya, beliau selalu memakai layar dan proyektor, dan seperti biasa, kita juga telah menyiapkan layarnya. Namun pagi itu, beliau hendak memberikan satu jenis keterampilan lain, dengan gaya khas di setiap kelas yang diampunya: munaqasyah (diskusi). Jadi, kelas segede itu rasa arena perlombaan debat ilmiah antarkelompok. Wah, bahagia sekali pokoknya. Kelas benar-benar hidup. Tidak monoton. 



Beliau menggulung kembali layar dan memulai kelas. Keterampilan yang ingin beliau ajarkan pagi itu ialah tentang berbicara (tahadduts) dan menelurkan suatu hukum (istinbath) dari buku diktat (muqarrar). Benar saja, PR yang minggu lalu beliau tanyakan dibahas pagi itu. Apakah perbuatan Allah disebabkan oleh suatu tujuan tertentu, ialah poin pembahasan kita kali ini.

Kelas berlangsung dengan sangat antusias, sebagaimana temen-temen Mesir selalu seneng berdebat. Masing-masing berusaha menguatkan pendapatnya dengan dalil, baik aqli maupun dari ayat dan Hadits. Kita membaca secara bergiliran materi yang tertulis di kitab. Satu waktu kita berdebat, satu lagi kita membaca dan menelurkan kesimpulan maksud dari teks yang tertera. Yah, untungnya kali ini kita memakai diktat yang terbilang istimewa. Diktat ini dibuat oleh Dr. Mahmud Ali Daqiqa, seorang anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar disertai rujukan kitab-kitab pokok yang mantap di bidang akidah. Seperti Syarh al-Mawaqif, al-Thawali' , Syarh al-Maqashid li al-Sa'd, Syarh al-'Aqa'id al-Nasafiyyah li al-Nasafiy, dan lain sebagainya. Kitab-kitab babon dari turats Islam. Sampai-sampai seorang senior di magister membuat pernyataan bahwa diktat ini sangat keren. Bahasanya mantap dan ini seperti diktat di dirasat ulya (pascasarjana).

Selepas pertanyaan tadi, kami masuk di pembahasan kenabian (al-nubuwwat). Sampai di subbab perbedaan nabi dan rasul, ada tiga pendapat yang tertera di sana. Pendapat satu dan dua menyatakan bahwa keduanya berbeda, dari segi perintah untuk menyampaikan (tabligh) dan kitab maupun syariat baru yang dibawanya. Pendapat ketiga menyatakan bahwa keduanya mutasawiyan, sama, setara. Di sini beliau menanyakan, apa perbedaan tasawi dan taraduf. Keduanya hampir sama. Bahkan saya pun menganggap bahwa keduanya sama, hanya istilah saja yang membedakan meskipun saya tahu, se-mirip-miripnya istilah dalam bahasa Arab, pasti ada bedanya. Benar saja, aku buka catatan mantik tahun lalu, kudapati kedua pengertian tadi memang berbeda. 

Sebagaimana biasa, Dr. Sonia selalu membuat sayembara di setiap kelasnya. Pun, tak jauh beda dengan kali ini. Siapa dari pelajar pendatang yang mampu menjawab, akan dihadiahi sepuluh pound Mesir. Wah, kebetulan saya baru baca. Hehe. Jadilah saya angkat tangan, dan menjawab. Taraduf (sinonim) ialah kata yang banyak rupanya namun memiliki makna yang sama. Kalau di bahasa Arab, kita mudah sekali bilangnya, seperti burr dan qumh (gandum), asad dan laits (singa). Tasawi ialah hal yang serupa dalam fakta, secara nyata, berbeda dalam pemahaman/konsepnya. Contoh kulliyyah dan jami'ah (universitas), insan dan basyar (manusia). Sontak setelah saya selesai, tepuk tangan memenuhi ruang kelas, Dr. Sonia selalu mengapresiasi seberapa kecilpun upaya yang kita berikan, apalagi bagi pendatang (wafidat). "Mumtaaz, shaffiqna laha ya Banaat."  Begitu kiranya ungkapan beliau.

Hemm. Bahagia, alhamdulillah. Akhirnya harapan saya tahun lalu untuk berperan ngomong di kelas kesampean. Ngomong gitu aja, padahal. Setidaknya, ini bentuk eksistensi bahwa saya ada di kelas saat itu. Saya harus ngomong. Bahwa wafidat juga memahami apa yang dijelaskan oleh dosen. Dalam hal ini, saya merasa Dr. Sonia punya cara menarik dalam melibatkan mahasiswinya di dalam kelas. Peran mahasiswi dalam menghidupkan kelas, bagaimana kita menyanggah pendapat lain, bagaimana kita tettap saling menghormati meski tidak sepakat, bagaimana menjadi pendengar yang baik, pun bagaimana cara menyampaikan yanng baik. Beliau sangat lihai dalam bidang ini. Di samping memang bidang inilah yang beliau tekuni, tak heran jika sangat matang, komprehensif dan sangat memuaskan. Secara tak langsung pula, beliau mendidik kita bagaimana cara berdebat yang baik, sebagaimana ada di buku-buku tentang Adab al-Bahtsi wa al-Munadharah.

Sayangnya, sejauh ini hanya beliau yang mempunyai metode seperti ini. Sangat kontras di rasa. Rasanya tak mau pisah, ingin terus diajar beliau. Mungkin, ustadzah Marwa hampir didahului olehnya, namun tetap saja saya harus menyadari bahwa keduanya ada di ruang lingkup yang berbeda. Dr. Sonia di tingkat universitas, dan usth. Marwa di tingkat pusat bahasa. Sehingga perbedaan objek ilmu yang seperti ini memberi dampak yang signifikan dalam bagaimana seorang guru mengajar dan memeberikan pemahaman. Beberapa menit kemudian, sesaat sebelum kelas usai, saya dipanggil dan diberi sepuluh pound yang tadi dijanjikan beliau. Diiringi tepuk tangan kali kedua. Aha, ternyata begini rasanya ditepuk-tangani temen-temen saat kelasnya Dr. Sonia. Bahagia? Tentu. Namun bahagia ini akan saya buktikan lagi dengan keseriusan dalam belajar dan memahami semua mata kuliah. Insya Allah. 

Saya bahagia, dan tentunya dibumbui rasa-rasa bangga, emm seneng aja gitu. Meski saya sadar, hal tadi sangat tidak seberapa. Karena apa yang saya sampaikan tadi merupakan hasil bacaan, bukan pemahaman. Jika ditanya seberapa paham pun, saya tidak berani menjawab seratus persen. Hanya modal keyakinan bahwa keduanya memang berbeda, namun saya tak bisa menghadirkan perbedaan dan konsep antarkeduanya, jika secara mendadak ditanyakan kepada saya. Maka, ini merupakan hadiah kecil saya di hari itu dari Tuhan. Allah selalu mengabulkan harapan saya. Sejauh ini melalui mata kuliah ini juga, rasanya saya tambah mantep bahwa tak ada apa-apa di saya, kecuali sebab limpahan rahmat-Nya. Bahkan jika kita bilang punya potensi, potensi itu merupakan anugerah dari-Nya, Subhaanahu wa Ta'aala. Dan ini sungguh melegakan. Bahwa saya punya Tuhan yang Mahakuasa, Mahakaya, Maha segala-galanya.

Bagi yang belum mendapat nikmat diajar sama Dr. Sonia, mungkin akan kurang paham bagaimana rasa ceritanya. Maka, saya sarankan: masuklah ke ruang kelas tingkat II Ushuluddin Banat, lantai dua gedung Studi Islam B, depan Fakultas Farmasi. Nanti ketemu saya juga di situ, wkwk. Ga penting banget si. Abaikan abaikan. :D

Dalam lantunan suluk shalat Jumat, Jumat 24 November 2017 di pukul 11.30 WLK. 

Sunday, 19 November 2017

Sekumpulan Pecinta Ahlul Bayt


Terdengar suara seorang ustadzah saat aku melepas sepatu di pintu utama masjid al-Azhar. Suara itu baru kudengar sekali ini, bukan suara Dr. Sonia ataupun lainnya yang pernah kukenal. 

Hari ini, Ahad 19/11/2017 aku bertandamg ke masjid, seusai kelas. Bus 80 coret tadi sebenarnya kosong, sehingga mahasiswi yang telah lama menunggu bergegas  masuk berebut tempat duduk. Bus tepat berhenti di depanku. Pintu terbuka, namun secara tak tertib mereka berebut masuk. Inginnya masuk duluan semua, akhirnya pintu penuh dan kesempatanku masuk duluan pun tertunda. Melihat pintu bus bagian belakang yang sepi, mestinga aku lari kesana. Namun, aku hanya terdiam melihat yang lain berpindah pintu, dan aku tetap menunggu di pintu tadi. Pasrah. Aku yakin aku akan masuk, meski berdiri menjadi suatu kepastian tersendiri. Haha ya Tuhan. Jalani setiap detail momen dengan percaya, maka hati akan tenang. 

Seusai turun dari bus mampir di Zad, sebuah toko roti di seberang terminal bus Darrasah. Menuju ke masjid, untuk sekadar menanggalkan kerinduan. 

Menarik. Sore ini, ada halakah ibu-ibu yang sedang mendalami sejarah Ahlul Bayt. Entah memakai kitab apa, yang jelas, ibu-ibu tadi dipimpin ustadzah yang siaranya terdengar sampai di pintu utama masjid. Beliau mungkin dukturah. Cara penyampaiannya enak, tegas. Di antaranya, mengulang tentang adab di majelis ilmu ialah termasuk tidak sibuk dengan gadget. Ketika itu ada seorang ibu yang sedang berbicara di telepon. 

Kemudian, tentang praktik keteladanan terhadap Ahlul Bayt. Rasul bersabda: "Addibū awlādakum hubba al-Qurān, wa hubba al-Nabiyy, wa hubba Ahli Baytihi". 

Lagi, beliau mengatakan: "Kullama zādat al-madaniyyah, qallat al-shihhah, kullama zādat al-rafāhiyyah, qallat al-ridlā". Semakin madani, semakin berkurang tingkat kesehatan masyarakat. Semakin jatuh dalam kenikmatan, semakin sulit untuk sekadar merelakan. 

Beberapa menit berikutnya, terdengar mikrofon dari ruwaq sebelah. Aha, aku yakin itu suara Dr. Hasan Usman, pengampu nahu di masjid al-Azhar. Kitabnya, Awdlah al-Masālik ilā Alfiyyah Ibni Mālik. Diktat nahu tingkat akhir. Selain ada juga, Syarh Ibnu Aqil di Rabu sore, sebelum jamnya Dr. Muhanna bersama Dr. Rabi' Ghafir. 

Ya Tuhan, mugi selalu diparingi taufik. 
Di bawah langit al-Azhar, di antara kumandang lantunan al-Quran. Rakaat terakhir shalat maghrib. 

Friday, 10 November 2017

Pepeling



Barangkali, mimpi menjadi sebuah momen tersendiri bagi seseorang. Entah disebut sebagai bunga tidur, sebagai refleksi pikir atas apa yang terlintas di dalam benak ketika siang hari, atau sebagai sebuah pertanda. 

Sebagian besar hariku akhir-akhir ini dipenuhi banyak mimpi. Bukan sembarang mimpi, mungkin. Karena entah mengapa, ada banyak hal yang kudapati darinya. Jawaban atas sebuah tanya, penanda atas sebuah perkara, penunjuk atas sebuah rasa, maupun pepeling atas dosa-dosa. Kiranya, yang terakhir inilah yang seringkali datang. 

Jika sebuah laku mempengaruhi segala sesuatu, maka aku tak cukup mendapat sebab untuk mendaku semua itu. Dilihat dari sisi manapun, sepertinya aku belum masuk kualifikasi santri ibu. Barakah shalawat Rasul, juga barakah al-Fatihah untuk Mbah Munawwir, Mbah Ali dan dzurriyyah mungkin, yang selalu memudahkan segala urusan, mengabulkan segala hajatku selama ini. Yarhamuhumullaah. Boten supe setiap ajeng deres, bakda shalat, alhamdulillah. 

Entah ke berapa kalinya, Selasa lalu (sekarang 10/11) ibu datang lagi. Kali itu, kita sedang di arena gerbang utama SMP Alma Ata, tempatku dulu menimba ilmu. Di gerbang situ, ibu dengan gaya khasnya mengajakku simaan, 20 juz. Entah acara apa di sana, intinya hanya poin bahwa ibu ngajak simaan bareng. Heu, dan seperti kali-kali terdahulu, akupun hanya meringis, tanpa mengiyakan maupun menolak. 

Semalem, Kamis (10/11), Syekh Abdullah juga menjumpaiku. Kali ini, aku mengajukan permohonan maaf karena masih ngelibur ngaji, sejak beberapa waktu lalu. Dan, mungkin karena kebangetan, beliau datang berkali-kali, mungkin ini kali ketiga atau keempat dalam dua bulan terakhir ini. Ya Allah, rasanya udah jelas pertanda, tapi terlalu keras hatinya. Belum ada semangat nderes yang menggebu, kendati beliau berdua sampun kerso menyambangiku. 

Bahagia, campur takut, harap-harap beliau berdua kerso mengakui daku sebagai santrinya. 

Beliau berdua datang berseling. Yang paling kuingat, Syekh Abdullah sebulan lalu mungkin, ketika bertemu di samping Azhar, aku salim dengan plegak-pleguk. Beliau hanya senyum, dan tanya mau kemana. Kedua, bertemu lagi di belakang Azhar, beliau menitipkan barang padaku dan memintaku untuk menjaganya sampai beliau kembali. Kemudian, ibu. 

Beliau datang, memintaku simaan entah dalam rangka apa. Rutinan mungkin. Kali itu, settingnya di mushalla komplek. Kemudian setelahnya, ibu memintaku menyelesaikan di sini, sesuai dengan jadwal khataman yang dibarengkan dengan haul, tahun depan sekitaran Februari. Kali ini, beliau ngendikan kalau ngga kesempatan ini sekarang, kapan lagi. Mungkin akan ada suatu hal yang terjadi. Aku hanya berharap, beliau semua baik-baik saja, panjang umur. Ibuk dan Syekh Abdullah. 

Ohya, setahun lalu, Syekh selalu datang di mimpi ketika aku tertidur dan belum sempat nderes. Padahal, waktu itu baru beberapa bulan daku ngaji ke beliau. Namun, beberapa pertemuan tersebut ternyata membuat chemistry yang cukup erat antara daku dan beliau. Ceritanya selalu berputar pada saat ketika aku ngadep dan belum lancar. Lantas beliau dengan jelas (sampai saat ini masih teringat) ngendika: "Dideres sek, ya, Nda. Kono ning buri". Seketika aku terbangun dibuatnya dan menyadari bahwa belum nderes sebelum terlelap tadi. Akupun cerita ke beliau. Beliau hanya tersenyum dan mendoakan dengan tulus: "Baarakallaah fiiik". Ah, adem sekali dengernya. 

Pernah juga, daku meminta untuk binnadzar sebagai sampingan, pun agar aku segera punya sanad, hehe. Beliau ndak kerso, terus dipeseni untuk nderes yang idah disetor aja setiap hari dua juz. 

Dan, kendati demikian, semua mimpi tadi masih tergeletak di sana. Daku belum mampu menangkap pesan, merealisasikan makna yang dikandung di dalamnya. 

Nderese tesih bioso wae. :(
Ya Allah, kerso paringi taufik. 🙏😭

Depan masjid al-Azhar, menuju tempat pulang. 
Jumat, 10/11/2017.

Sunday, 5 November 2017

Perjalanan Menuju Diri Sendiri


Seminggu yang lalu, pada Senin tepatnya, aku mulai belajar pada salah seorang senior di kajian. Syukurlah, rumahnya tak terlalu jauh. Hanya memang, sedikit mungkin sekitar 0,001 Masisir yang tinggal di daerah itu. Jadi, nambah rutinitas keseharianku yang semakin menjadikan rumahku hanya tempat untuk kembali dan sekadar menyelonjorkan kaki. 

Bagi beberapa orang yang melihat, mungkin orang-orang yang (terlihat) sibuk mampu menjalani hari-harinya dengan bahagia. Bertemu dengan siapa saja, membentuk relasi sosial pada seantero mahasiswa Indonesia di sini, atau minimal mempunyai teman yang bisa diajak ngobrol, meski sebenarnya tak terlalu penting. Intinya, ada teman dan  tak terlihat menyedihkan. 

Ah, orang-orang unik memang. 

Sepulang dari rumah tadi, kira-kira bakda Isya, terpukul rasanya hati ini. Ternyata, sekadar membaca saja belum bisa. Ditambah lagi, dengan kondisi mengenaskan seperti itu aku seringkali merasa punya kemampuan baca yang lumayan, jika dilihat dari teman-teman seangkatan. Lagi-lagi entah apa saja yang telah aku lakukan selama masuk tahun ketiga ini. Aku tak begitu yakin. Mungkin saja, aku hanya bermain dengan relasi, mencari eksistensi diri, namun masih belum menemukan diri yang sejati. Selama ini hanya tentang eksistensi yang rasanya, palsu. 

Tentang kebingungan mencari jati diri. Mungkin, masa-masa di usiaku kini masihkah bisa disebut dengan pencarian jati diri? Aku tak terlalu yakin. Mengapa, karena banyak di luar sana, teman sebaya yang kurasa telah mampu menemukan jati dirinya. Dalam satu bidang di antara sejuta bidang yang ada di dunia. Rasanya, mereka telah menemukan dan enjoy saja. Terlepas dari sudut pandang orang lain tentang kemanfaatan, kesungguhan, dan seberapa jauh bidang tersebut mengisyaratkan kondisi yang empunya. 

Selalu terdetak ingatan tentang betapa malangnya diri ini, seperti ini. Seringkali ada pikiran-pikiran yang menyusup, masuk ke kepala, nyempil-nyempil di antara sesaknya lalu lintas jalanan. Meski demikian, setidaknya hal itu mampu mengalihkanku dari bisingnya deruman bus, klakson-klakson Tramco yang terus mendesak, teriakan para penumpang, aih juga mobil-mobil pribadi yang saling berebut jalan, serta sesaknya bus ketika penumpang masuk berdesakan. Huft, ini perjalanan hidup. Menuju diri sendiri. 

Sampai di Sadis, penumpang berangsur turun. Kebanyakan mereka ialah mahasiswa yang kuliahnya di kampus II al-Azhar, kawasan kampus yang baru. Satu kawasan ini dipagari tembok yang tak begitu tinggi, membentang membentuk segi panjang—meski lebih mirip segi tak beraturan. Ah, mungkin trapesium, mungkin. Entah segi berapa. Di kawasan ini ada Pusat Bahasa al-Azhar, Fakultas Syariah, Gedung Program Pascasarjana, Auditorium Shalah Kamil, Gedung Rektorat Universitas, Gedung Pusat Arsip Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Fakultas Media, Fakultas Perdagangan, Asrama Mahasiswa Indonesia, dan gedung-gedung lain yang tak terhitung jumlahnga, di samping Gedung Studi Islam dan Bahasa Arab untuk putri. 

Perjalanan menuju kampus, selalu kusebut perjalanan menuju diri sendiri. 

Deret gedung yang menjulang, jalan layang yang selalu padat, pekuburan yang berdampingan dengan pemukiman, ramainya manusia di pinggir jalan, serta kawasan kampus yang jadi tempat belajar sekian tahun ke depan. Ah, bukan tempat belajar katanya. Tempat melatih metode pemikiran. 

Menuju diri sendiri, karena ketika kita mengunjungi suatu tempat, kita akan menemukan kembali diri kita yang dulu, di tempat itu, dengan paripurna. Meninggalkan suatu tempat berarti meninggalkan sebagian diri kita di tempat tersebut. Bukan hati yang tertinggal, namun jiwa. 

Dulu aku pernah belajar di Pusat Bahasa al-Azhar. Dua tahun yang lalu, kisaran. Tak hanya diktat dan ujian yang saya dapatkan, jiwa baru yang kini hidup bersama keseharianku ialah bekal terdalam yang pernah digoreskan Tuhan. Ada suatu yang hidup bahkan ketika diri ini tak lagi di sana. Pun, ada yang hilang ketika mengingat bahwa suatu saat, aku akan meninggalkan dengan ataupun tanpa alasan. Pusat Bahasa, melewati gedung seperti itu setiap hari membuatku menemukan kembali jiwa yang dulu pernah pergi. 

Meski begitu, kampus putri menjadi satu hal yang sama dengan Pusat Bahasa tadi. Kuliah selalu mengingatkanku bahwa hidup begitu cepat berlalu. Dengan atauoun tanpa kerja keras menghidupi rasa syukur yang diberi oleh Tuhan. Mungkin, hidup yang sungguhan hanya akan saya dapatkan dengan kesungguhan yang sungguh-sungguh, dan tentu dengan pertolongan Tuhan. 

Perjalanan menuju diri sendiri, saya menyebutnya seperti itu. 

Pagi yang dingin, Darrasa 5 November 2017.
Semoga selalu diberi taufik oleh-Nya. Aamiin.


Friday, 20 October 2017

Kesalehan dan Mimpi-mimpi yang Menyata

Gb: gedung Fakultas Kedokteran Gigi dilihat dari ruang kelas II Ushul, FDI Gd. B


Beberapa waktu ini, saya dan teman rumah sedang mengikuti salah satu film baru. Aktor yang memainkan peran Jaksa Jung ialah Lee Jong Suk. Sedangkan partnernya, diperankan mbak Suzy Bae (Suzy Aja). Karena efek kelas film di Sekolah Menulis Walisongo (SMW), saya mencoba memeras kepala, mencari hal yang menarik, yang layak, sehingga kegiatan menonton tidak menjadi mainstream, seperti kebanyakan nonton film. Akhirnya, membahas mimpi yang menyata mungkin satu hal yang menarik. 

While You're Sleeping (2017) menceritakan tentang mimpi—sebagimana judulnya. Mimpi yang datang ketika kita sedang tidur. Mimpi yang menyata, sebuah pertanda akan apa yang akan terjadi. Kadang saya berpikir, ternyata tak harus saleh banget untuk dapat wangsit dari mimpi. Weruh sak durunge winarah. Agaknya, ini yang terlintas di kepala saya ketika mengikuti pergantian scene yang ditampilkan layar mini dua puluhan inci itu. 

Terlalu memaksakan mungkin. Kadang, ketika kita masuk dalam ranah kesalehan, ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi bagi seseorang yang ingin wangsit tadi—atau sejenis itu. Mestinya, ada laku-laku yang bisa mengkuakifikasi bahwa anugerah kaweruh itu dekat sekali dengan kesalehan. Tentunya, dalam ranah yang berbeda, sih. 

Bolehlah, kita melihat beberapa dimensi dari kalangan liyan. Eh, terlalu kasar jika kita mengatakan itu. Karena sesungguhnya, nonton film yang paling kena efeknya ialah, mestinya kita merasa bahwa mereka dan kita sama-sama manusia. Itu hal yang cukup untuk melihat, mengamati dan mengambil pelajaran yang sekiranya memberi kemanfaatan. Ya manafaat dalam apa saja, pengalaman, cara pandang, nalar pikir, dan lain sebagainya. 

Korea mempunyai cara yang khas dalam menyampaikan film. Cerita-cerita drama yang romantis, melow, heroik, persoalan antara rasa, profesi dan masa lalu biasanya dicampur jadi satu. Yah, gara-gara itu pula, cara pandang terhadap film-film loyan oun semakin defensif. 

Mimpi, pada akhirnya bukan semata hal yang lalu. Ia sebagai bisa jadi sebuah pertanda, sebuah bunga tidur, atau hal yang ada lalu pergi begitu saja, tak merasa apa-apa. 

Mimpi, selain sebuah repetisi semu dan abstrak atas aoa yang kita pikirkan sebelum tidur, ia juga sebagai tolok ukur kesalehan. Seringkali kita melihat bahwa orang-orang yang saleh, selalu mimpi yang bermakna. Entah untuk kemaslahatan diri maupun umum, mimpi seringkali jadi cerminan seberapa tulus amal yang kita lakukan. Karena banyak amal saja tak cukup, maka saya katakan yang tulus. Karena sebagaimana kita tahu, Tuhan tak menerima apa-apa kecuali atas landasan tulus dan ikhlas. 

Dalam film tadi pun, tokoh yang mempunyai mimpi yang berarti ialah mereka yang punya kesalehan yang luhur dalam kesehariannya. Terlepas dari tradisi bahwa tokoh utama selalu baik, mimpi di sini digambarkan adanya satu kesalehan yang pernah dilakukan dengan begitu ikhlas. Kejadian tersebut saya kira yang membuat mereka diamanahi mimpi yang berarti. Kejadian yang saking tulusnya, mereka lupa bahwa mereka pernah melakukannya. Hal itu yang kemudian jadi wasilah bagi mereka untuk dianugerahi mimli sedemikian tadi. 

Karena kita sesama manusia, maka kesalehan di sini saya lihat secara sosial. Secara ritual, biarlah itu menjadi urusan dia dan Tuhannya. Nah, ini sesuai dengan kisah tiga pemuda yang terjebak di dalam gua, yang kemudian berwasilah dengan amal terbaik yang pernah mereka lakukan. Amal baik tadi, menjadi wasilah turunnya "anugerah" dari Tuhan, yang kadang kembali dengan berbanyak lipat dari apa yang kita lakukan. Kebaikan kecil menjadi sangat luhur dan mahal hanya karena sedalam tulus ikhlas yang mewarnainya. 

Saya seringkali melihat mimpi yang seperti tadi itu dengan anugerah. 

Kairo, 20 Oktober 2017 @ 12.33 CLT.
Ketika khotbah masjid sebelah usai. Bersiap menuju masjid al-Azhar, menadah untaian hikmah dari Dr. Muhanna. Semoga barakah kesalehan beliau tertadah oleh kita sekalian. 

Tuesday, 17 October 2017

Generasi Merunduk

abaikan, ini gak nyambung sama isi.


Ternyata, semakin ke sini semakin banyak hal perlu dipikirkan. Entahlah, mungkin sebuah keniscayaan ketika umur seseorang bertambah, ada tambahan beban yang kudu dipikirkan. Ah, mungkin ini hanya berlaku bagi kalangan yang tumbuh dengan pendewasaan yang benar. Buktinya, ada beberapa kawan yang, semakin besar, hidupnya terasa lebih nyaman. Misal, dikit-dikit bahasnya nikah. Sampe di lini masa Instagram pun, mayoritas foto yang mampang di deretan menu Search pun tentang pernikahan. Ah, mungkin petugas KUA di seluruh dunia sedang sibuk-sibuknya. 

Di sisi lain, ada banyak kabar yang melintas tentang santri yang juara. Ada lagi tentang mereka yang menemukan terobosan baru di minyak, tenaga listrik dan ranah tekno lainnya. Di belahan dunia sana, ada yang baru saja menapak kaki, memantapkan langkah baru menuntut ilmu. Di belahan selatannya, ada yang baru pindah ke Aussie, ikut suami menempuh master di Monash University. Ketika kita liat di globe, di bagian atasnya ada yang sedang ribut menyoal diksi pribumi yang dilontarkan salah satu pejabat baru. Sebegitu masifnya runtuhan puing-puing globalisasi membenarkan asumsiku bahwa saat ini semua menjadi transparan. Semua terlihat. Kegiatan apapun yang ada, sekali taruh di storyApp, seantero dunia bisa melihatnya. Transparan sekali. 

Meski demikian, entah mengapa efek sampingnya luar biasa. Gara-gara ada alat transparan tadi, semua jadi penuh pencitraan, pertama. Yah, ini terlepas dari mereka yang memungut puing-puing untuk didaur ulang, dimanfaatkan. Kedua, semuanya jadi merunduk, gara-gara sibuk berebut reruntuhan kecil tadi. Dan jujur saya, meski hanya punya satu, saya pun turut kena candu. Alesannya, banyak chat masuk. Ah, dengan culasnya saya pede mengatakan itu. Padahal, alesan aja. 

Generasi merunduk. Dari yang saya amati, benar-benar ada satu skip nilai yang hilang. Mereka yang biasa sibuk dengan gadgetnya cenderung pasif, cuek, dan apatis. Pasif dengan sekitar karena mereka sibuk mantengin layar. Kudu dua tiga kali manggil namanya kalo kita pengen ngajak dia berdialektika. Elah, ketinggian bahasanya. Ngobrol, lebih tepatnya. Jadi, telinga yang selalu terbuka setiap saat sudah terdistorsi fungsinya. Tak lagi ada respon cepat tanggap, aktif dan masif.

Cuek dan apatis, kebanyakan ini terjadi ketika sudah terakumulasi candu gadget. Selain merunduk, yang paling sering dikeluarkan paling gumam "hmm", atau jawab sekenanya "iya" atau tiba-tiba "apa sih" dengan ketus dan raut kesal ketika disebut nama berkali-kali. Gara-gara gadget, kita kurang ngobrol jadinya. 

Sunday, 15 October 2017

Sastra; Sebuah Ruang Tanpa Pencitraan



Sastra ialah cara terbaik untuk menyampaikan kata-kata. Setidaknya, meski saya bukan mahasiswi jurusan sastra, pun tak pernah belajar bagaimana seharusnya sastra, saya turut menikmatinya. Menikmatinya sebagai satu-satunya ruang yang bersih, jujur dan apa adanya. Menampilkan keindahan dengan lebih indah. Menceritakan sejarah kelam dengan tidak berlebihan. Membuka paradigma dengan kejujuran dan keterbukaan, tanpa dibumbui hawa-hawa panas nan penuh kepentingan. 

Entah, selama beberapa minggu di ujung liburan kemarin rasanya ada banyak perkara yang masuk dan terpaksa diolah oleh saraf-saraf di kepala. Beberapa pandangan yang setidaknya membuat saya tidak bisa berkata banyak seperti dahulu. Tergagu. Perkara-perkara yang setidaknya membuat saya berpikir bahwa hidup saya selama ini belum benar-benar berarti. Semua kata yang pernah saya tulis dan dilabeli sebagai makalah, ternyata tidak seintelek itu. Piagam-piagam, sertifikat dan amplop yang pernah saya terima ternyata hanya simbolis semata. Pujian, ujaran kebahagiaan yang pernah dilontarkan teman-teman pun hanya kata-kata semu yang ditutupi oleh sesaknya kepentingan, buramnya kaca mata dalam berpandangan ke depan, melihat yang benar-benar murni tanpa pencitraan, secara sadar maupun tidak. Entah mengapa, saya merasa tidak benar-benar hidup dengan baik. Saya hanya ikut-ikutan arus yang kian kemari kian membanggakan hal-hal yang bersifat materi. 

Hari ini, siang tadi tepatnya, saya tidak sengaja melihat salah satu foto di deretan menu Search di Instagram. Ternyata ia seorang yang terkenal. Ia seorang sastrawan kenamaan, baik di Masisir maupun di Indonesia. Sering diundang di kampus-kampus Indonesia, sering jumpa dengan seniman, sastrawan bahkan para kiai sepuh yang masyhur di telinga. Ternyata, ia santri yang waktu mondoknya lumayan lama. Dan ternyata, ia tidak sefanatik mereka (dan saya mungkin juga pernah) yang menggembar-gemborkan perkara-perkara simbolis yang dibangga-banggakan. Ia beraksi nyata. Ia berkarya. Ia tidak banyak kata. Ia larut dalam dunia asyiknya, sastra.

Setelah beberapa saat melihat-lihat postingannya--atau stalking gitu aja--saya teringat, terpikirkan kondisi diri. Sebenarnya saya siapa? Melihat beberapa kerabat, teman yang telah menjadi "orang," saya hanya tersenyum kecut. Haa, saya bukan siapa-siapa. Saya bukan apa-apa. Saya belum menjadi seperti mereka yang mampu menulis karya. Pun, ada satu scene, satu jenis kelompok masyarakat yang pernah saya kepingin menjadi bagiannya, namun akhirnya tersadar, itu tidak akan nyata. Akhirnya, pikiran saya terhenti bahwa saya harus memulai untuk hal-hal yang konkret. Bukan lagi ikut-ikutan mencari teman, turut mengambil bagian di kehidupan yang katanya modern ini sebab relasi dan komunikasi, atau bahasa kasarnya popularitas. Dan, lagi-lagi saya kepikiran bahwa, popularitas tidak ada artinya tanpa diri yang benar-benar berkualitas. Itu semua semu, menurutku. Mungkin, inilah bagian yang dinyatakan dalam al-Quran bahwa, dunia hanyalah tipuan belaka. Saling menipu dalam secarik kertas bertuliskan nama dan penghargaan. Saling menipu dan bersembunyi di balik emotikon WhatsApp. Saling pencitraan dengan mengapdet foto-foto berbaju kesalehan. Padahal, bajunya hanya dipake sekali dalam sebulan. Padahal, sebenarnya foto sama ulama tadi hanya kebetulan. Padahal, semua yang pernah dicapai hanya pemberian dari Yang Maha Menghidupkan. Meski begitu, seringkali kita mengklaim bahwa itulah capaian diri yang membanggakan. 

Dalam akun tadi, setidaknya ada angin yang mendesir, mengubah lamunanku bahwa hidup, mestinya lebih berarti dari apa yang kita pahami dalam makna kata "berarti" itu sendiri. Dalam artian, bukan sekadar bangun mandi makan pergi lalu kembali setelah bersosialisasi, namun ada bagian yang menjadi porsi diri, jiwa dan hati. Nyatanya, yang katanya bersosialisasi belum sepenuhnya mempunyai hati. Pun, yang mampu meraih predikat mahasiswa terbaik, atau apa terbaik belum sepenuhnya bijak, layaknya para penganggit sajak. Lagi-lagi, semua itu tadi hanya simbolisasi. Kita terkungkung dalam dunia modern yang merasa cukup dengan runtuhan puing-puing teknologi yang mengelabui. Tak lebih dari itu, semua yang kita temui menjadikan materi, lambang dan gambar sebagai esensi. Sebenarnya, sejauh mana kita memahami makna esensi? Entahlah, saya pun belum memahaminya dengan pasti. 

Sastrawan, mereka yang mengatakan esensi tanpa simbolisasi. Mereka mengatakan kebenaran tanpa nyiyir dan menafikan yang lain. Mereka mengutarakan pemikiran tanpa kertas mahal bertuliskan "hasil kajian." Mereka yang menumpahkan segala emosi tanpa menyakiti hati. Mereka yang menghidupi hidup, sebenar-benar hidup. Meski mereka tiada, kelak buah cipta dan rasanya yang akan terus berbicara. Menasehati para pemuda yang hidup pada masa setelahnya. Mengingatkan mereka akan betapa arifnya menghidupi kehidupan dengan luasnya keindahan makna, tanpa diracuni oleh bias-bisa pencitraan. Haruskah kita menjadi sastrawan?

Kairo, 15 Oktober 2017.
Ketika adzan masjid sebelah berkumandang. Senja telah lama berpulang ke peraduan. 

Bapak telah Memilih

 24 Februari 2023 Hari ini, tepat sebulan aku berada di Bangkok. Aku dan suami berangkat ke Thailand 24 Januari lalu. Sebelumnya, 18 Januari...