(Ayo Kita) Rekonstruksi Makna Lebaran
Oleh:
Hamidatul H.
إن يوما جامعا شملي بهم * ذاك
عيد ليس لي عيد سواه
“Sungguh pada suatu hari
di mana aku bersua dengan mereka (yang kucintai) * Itulah sebuah hari raya. Selain
saat jumpa itu, maka bukanlah ia sebuah hari raya bagiku.”
Bulan Ramadan telah berlalu, Kawan. Bagaimanakah
perasaanmu? Sedih, enggan berpisah dengannya, rindu akan atmosfernya, atau
malah senang dan bahagia sebab ia telah berlalu dan lebaran telah riang menyapamu?
Lebaran, begitulah momen itu disebut. Saat di mana
umat muslim di berbagai belahan dunia merayakan hari itu dengan penuh
kebahagiaan, penuh rasa kemenangan. Bagaimana tidak? Mereka telah melaksanakan
ibadah puasa satu bulan penuh selama bulan Ramadan, yang artinya, mereka telah berjuang
mengarahkan hawa nafsunya sedemikian hingga Allah rida terhadapnya.
Hari raya Idul Fitri yang selanjutnya akrab disebut
dengan lebaran ini merupakan sebuah nikmat. Sebuah nikmat, karena di hari itu
umat Islam merasakan kebahagiaan yang tiada tara, dengan ketaatan yang telah
dilaluinya selama satu bulan. Bahkan, mereka mendapat gelontoran pahala dari
amalan-amalan yang telah dilakukan, dengan syarat: niat karena Allah swt., sebagaimana
firman-Nya: ” Qul bi fadhlillaahi wa birahmatihii fa bidzaalika fal yafrahuu..”.
Dari sinilah sebenarnya kita harus merenungi apa makna
lebaran yang sesungguhnya. Banyak dari kalangan masyarakat kita yang
berangggapan bahwa lebaran ialah hari di mana pakaian baru, makanan melimpah,
hari bersenang-senang, dan lain sebagainya. Padahal, pernah suatu kaum berjalan
melewati sebuah perkampungan, dan bertanya kepada seorang rahib yang mukim di
sana tentang kapan jatuhnya hari raya mereka. Ia menjawab: “ Hari raya bukanlah
untuk orang-orang yang memakai pakaian baru. Sungguh, hari raya ialah (hanya)
untuk mereka yang bertambah ketaatan pada Tuhannya.”
Esensi sebagai inti segala sesuatu hanya dapat
dinikmati oleh mereka yang memahami hakikat dari esensi itu sendiri. Maka
sebenarnya, esensi dari lebaran ialah lebar (bahasa Jawa: rampung, selesai,
bebas –pen) dari dosa dan seperti terlahir kembali. Itulah mengapa lebaran
dinamakan dengan ‘Iid al-fithri (kembalinya sebuah fitrah). Fitrah
manusia yang suci, layaknya sebuah bayi yang baru lahir dari perut ibunya;
bersih tanpa kotoran hati maupun perbuatan.
Bagaimana bisa kita menjamin kembalinya sebuah fitrah?
Berawal dari pemahaman kata yang terkandung dalam
kalimat “Idul Fitri”, secara bahasa dapat kita pahami sebagai kembalinya sebuah
fitrah. Secara kontekstual, hal ini merupakan sebuah jawaban, jaminan, bahkan
bisa jadi sebuah tantangan akan pencapaian seorang hamba atas syariat yang
diamanahkan kepadanya, yakni berpuasa di bulan Ramadan. Apakah ia -akan- benar
mencapai jaminan itu? Apakah ia -juga akan- gagal? Atau bahkan, apakah mungkin
ia tidak mendapat jaminan itu sama sekali?
Secara tersirat, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di
atas dapat kita temukan pada banyak hadits Rasulullah tentang keutamaan bulan
Ramadan, keistimewaan amalan yang dilakukan, jaminan terbebas dari neraka, dan
lain sebagainya. Mengapa Rasul menganjurkan amalan ini-itu, mengapa umat Islam
didorong untuk meraup sebanyak mungkin pahala, berlomba-lomba dalam kebaikan,
memohon ampun dan seterusnya? Tak lain, agar kita berhak mendapat jaminan itu.
Tak lain pula, agar kita mendapat jatah sebagai orang-orang yang kembali
fitrahnya, terbebas dari dosa dan api neraka.
Itulah sekelumit makna dari kata “lebaran”, ataupun
hari raya Idul Fitri dalam versi Arabnya. Rasanya ada yang kurang jika kita
tidak menyinggung lebaran di Tanah Perantauan ini, Negeri Kinanah tempat kita
menimba ilmu dan merangkai masa depan. Lupakan sejenak (kenangan) lebaran di
Indonesia, karena kini, benua dan samudra jauh terbentang di depan kita. Sedih,
memang. Tetapi, lebih menyedihkan jika kita menyia-nyiakan kesempatan di sini,
bukan?!
Tak hanya saat lebaran, sejak awal Ramadan pun
masyarakat Mesir -khususnya- telah ramai bersuka cita mengucapkan kalimat kullu ‘aam wa antum bikhaiir. Kalimat tersebut
merupakan bentuk tahni’ah (ucapan selamat). Selain itu, kalimat minal
‘aaidiin al-faaiziin juga merupakan bentuk lain dari ucapan itu. Nah, perlu
diperhatikan di sini, bahwasanya dalam redaksi ‘aaidiin dan kalimat
setelahnya, yakni faaiziin lebih indah jika kita tidak memakai huruf ‘athaf
(kata sambung) wau (و (.
Tentunya, makna kalimat yang tanpa kata sambung ini juga lebih indah, dan
mencakup makna yang lebih luas.
Mengenai masyarakat Mesir, sebenarnya penulis belum
mengetahui bagaimana tradisi lebaran di sini. Namun, biasanya mereka juga
berkunjung ke desa tempat tinggal orang tua mereka, berkumpul dan bersua,
menghabiskan waktu bersama keluarga. Karena setelah itu, mereka akan kembali
berkutat dengan rutinitas dan kesibukan masing-masing; ngantor dan
seabrek macam pekerjaan lainnya.
Untuk kedermawanan, sebagian dari mereka sangat
dermawan, hingga biasanya mereka disandingkan dengan matsal
(perumpamaan) bahwa ia seperti Hatim al-Thaai, penyair Arab Jahiliah yang
sangat dermawan, tak ada yang mampu menyamai pemberiannya. Maka, tak heran jika
Masisir sering mendapat berbagai macam musa’adah (bantuan); baik sembako
maupun uang, terlebih di bulan Ramadan dan hari-hari besar umat Islam.
Selebihnya, bisa dikatakan bahwa mereka -pribumi Mesir- seperti istrinya Hatim;
pelit dan tak suka campur tangan urusan orang lain.
Agaknya, lebaran tahun ini terasa “istimewa”; tanpa
keluarga, tanpa orang-orang tercinta, atau bahkan sekadar tetangga. Ke’istimewa’an
ini senada dengan kalam hikmah yang mengatakan: “laysa lil muhibbi ‘iidun
illaa qurba mahbuubihi” (tak ada hari raya bagi seorang pecinta, kecuali
dekat dengan orang yang dicintainya). Meski keramaian dan orang-orangnya juga berbeda,
hendaknya hal-hal tersebut tidak mengurangi makna dan esensi dari lebaran itu
sendiri.
Hasan al-Bashri pernah berkata:” Setiap hari yang
mampu dilalui tanpa maksiat kepada Allah ialah hari raya, dan barangsiapa mampu
memotong setiap hari menjadi taat, dzikir dan syukur kepada Allah swt., maka
baginya (pula ialah sebuah) hari raya.” Alangkah indahnya jika setiap hari
ialah hari raya!
Terlepas dari bagaimana kondisi lingkungan dan
orang-orang sekitar, maka kondisi hati harus lebih diperhatikan. Hati harus
selalu siaga; ingat tujuan dari rumah, berjuang semaksimal kemampuan dan
nrimo ing pandum, serta maksimalkan kesempatan. Allaah al-musta’aan.
Kullu ‘aam wa hadharaatukum bikhaeeer !!
No comments:
Post a Comment