Thursday, 23 February 2023

Bapak telah Memilih

 24 Februari 2023

Hari ini, tepat sebulan aku berada di Bangkok. Aku dan suami berangkat ke Thailand 24 Januari lalu. Sebelumnya, 18 Januari, kami menikah. Karena ini adalah blog pertama setelah sekian lama, terutama setelah menikah, aku ingin menuangkan perasaan bagaimana keadaanku, apa yang aku pikirkan dan apa yang aku temui di sini. Namun untuk sekarang, aku akan menulis bagaimana aku bertemu dan perjalanan singkat dari pinangan hingga pernikahan.

Pertemuanku dengan suami adalah pengalaman magis. Yang aku maksud bukan pertemuan secara fisik, namun bagaimana jiwa kami 'bertemu' dan sepakat jauh sebelum akhirnya kami benar-benar berjumpa. 

Desember 2020 merupakan bulan kelahiranku. Sebulan sebelumnya, aku dan 200-an kawan Indonesia baru saja wisuda di KBRI, Garden City. Tak dinyana, aku dianugerahi wisudawan terbaik, satu-satunya dari Fakultas Usuludin. Tiga terbaik lainnya dari Fakultas Syariah. 

Kelulusan tak terduga itu pernah aku bayangkan di dua atau tiga tahun sebelumnya. Aku sempat berpikir bagaimana rasanya menjadi lulusan terbaik kampus ini. Pikiran itu lantas teralihkan oleh kesibukan ngaji, organisasi, diskusi dan kegiatan-kegiatan lain seperti menulis dan main, hehe. Lancar dan asiknya aku belajar selama empat tahun di lisens al-Azhar, sudah barang tentu adalah buah dari doa dan tirakat serta restu Bapak, Mama, guru-guru di pesantren dan sekolah, serta teman. Mungkin juga orang-orang lain. 

Dengan kesadaran begitu, aku menulis unggahan di Facebook sebagai tanda terima kasih, sebagai pengakuan perhatian dan kasih sayang mereka.

Di pertengahan Desember, Mamas menanyai perihal apakah aku ingin berkeluarga melalui temannya yang juga di Saudi. Ia mahasiswa PhD tahun kedua waktu itu, di King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM). Ini kampus lumayan bagus untuk bidang minyak dan sejenis itu. Beberapa saintisnya masuk ke daftar sekian besar tokoh berpengaruh versi Stanford. 

Itu, di Desember tadi, merupakan pintaan ketiga. Ia sudah mengutarakan hal yang sama sejak 2015. Baru lulus Aliyah, aku tak berpikiran untuk berkeluarga, sama sekali. Aku abaikan. Ia lantas mengirimi, menanyai hal yang sama pada Januari 2018. Aku sempat gelisah, terkesan oleh gaya bicaranya yang 'santri banget'. Tahu unggah-ungguh dan santun dalam bertutur. Sebab gelisah memikirkan bagaimana, aku malah lupa tak membalas. Yang ketiga, puji Tuhan, ia menemukan momentumnya. 

Aku mengirim fotonya ke Bapak untuk dilihat. "Bagus," ujar Bapak. Dari layar hp, aku melihatnya langsung menghitung dengan batu-batu kecil di meja ruang tengah saat aku telpon dan ku beri tahu ada laki-laki yang ingin melamarku. Bapak setuju. Aku masih tidak mengerti mengapa ia setuju.

Dua hari setelahh telpon, perasaanku ke Mamas berubah. Tadinya, aku tak merasakan apapun. Batinku lantas melunak, ada dorongan untuk membuka diri untuknya, membiarkannya masuk agar ku kenali lebih dalam. Aku curiga Bapak melakukan sesuatu padaku. Aku menanyainya, "Bapak ngapa-ngapain kulo, ngge?" (Bapak melakukan sesuatu untukku, ya?) "Hanya wasilah...", jawabnya. Hanya wasilah.

Kami akhirnya bertunangan pada 5 Rajab 1442 H, 17 Februari 2021. Doa dari teman dan guru beriringan, membuatku merasa telah mengambil keputusan yang benar meski pertanyaan 'bagaimana bisa' tak terelakkan. Kami belum pernah bertemu. Saat tunangan, hanya pihak keluarga yang melangsungkan. Aku tasyakuran kecil-kecilan di Kairo. Kami kirimkan berkat kecil ke teman-teman terdekat. 

Kami menikah pada 18 Januari 2023 kemarin. Itu berarti hampir dua tahun kami bertunangan. Waktu yang cukup lama dan tak biasa. Selama dua tahun ini, dua hal penting aku alami. Pertama, kehadiran Bapak lebih terasa. Mungkin masa-masa itu adalah waktu paling berharga yang aku alami dalam keluarga, bahwa aku memiliki keluarga. Bapak, Mama, Embak, dan dua Mamas sungguh-sungguh ngopeni hajatku ini. Mereka urun rasa, urun rembug, hadir membantu. Tanpa alasan. 

Kedua, aku mengenal Mamas mungkin, lebih baik. Aku mengenalnya melalui beberapa konflik yang terjadi dalam rentang hampir dua tahun itu. Ada banyak pengunduran tanggal acara, beberapa kali. Salah satu yang terhebat ialah Januari 2022. Pernikahan diundur untuk kesekian kalinya. Bapak, melalui pertimbangan yang hanya ia yang tahu betul, berubah pikiran, utamanya setelah Mamas memutuskan untuk final exit dari Saudi pada September 2022 tanpa mengabariku. Itu artinya, ia pulang selamanya ke Indonesia, tidak melanjutkan kuliahnya untuk sementara. Meski alasannya jelas dan itulah rekomendasi profesornya, aku tetap merasa tidak dilibatkan dalam keputusan ini. Sekembalinya dari Saudi, Mamas dan keluarga ke rumah untuk pertama kali sejak bertunangan. Mereka membahas tanggal.

Bapak, seperti biasa, melihat ules wajahnya (garis wajah, air muka). Ia menemukan sesuatu yang membuatnya sampai pada kesimpulan: jika pernikahan ini diteruskan, akibatnya kurang baik. Mamas sedang tidak sekolah, saat itu. Pekerjaan, juga tidak. Ia sebelumnya bekerja paruh waktu di laboratorium di kampusnya. Dengan fakta begini, Bapak khawatir aku akan sulit kembali ke Kairo melanjutkan masterku. Di sisi lain, Mamas terus teguh bahwa aku akan bisa kembali ke sana, bahwa ia sudah siap betul secara finansial dan sedang akan masuk ke pekerjaan baru. Sedang akan. Bapak tak bisa memegangi sesuatu yang belum terjadi. Pernikahan ditunda. Tanggal 24 Januari 2022 terlewat begitu saja. 

Ada beberapa pertimbangan mengapa pernikahan ditunda. Aku membacanya begini: perbedaan kultur antara Jawa Barat dan Jawa Tengah; kesiapan finansial (Mamas) dan mental (aku); dan uji seberapa mantap kami mengambil keputusan. Bapak ingin melihat seberapa kuat niat kami untuk menikah di usia sekolah begini. Ia ingin melihat bagaimana Mamas menyikapi peran baru nanti dan posisinya sebagai sandwich generation, utamanya soal keuangan dan perihal merge-and-center, penyerasian kultur keluarga masing-masing. Mamas mungkin agak kecewa waktu itu, sebab ia tak bisa ku hubungi selama tiga hari. Ia hanya menjawab pesan dengan singkat. Aku sadar ketika itu, ada tembok terbangun yang menjadi tantangan baru selain jarak dan kepercayaan.

Waktu berlalu, pelan dan menghimpit batin. Pada Februari 2022, Mamas berangkat ke Thailand. Ia diterima sebagai mahasiswa PhD di King Mongkut's University of Technology Thonburi (KMUTT) Bangkok. Ini kampus nomor satu di Thailand versi World QS 2022 dan tahun-tahun ke belakang, untuk bidang teknik. Awalnya ia mengajukan proposal penelitian di sebuah industri. Proposal diterima. Ia ditawari untuk sekalian mengambil PhD di bidang penelitian itu. Beasiswa penuh. 

Ia mengambil jurusan Kimia Energi di The Joint Graduate School of Energy and Environment (JGSEE). Dari program ini, rencananya, tahun depan ia akan sedang internship di Austria. Meneliti di sana. Semoga lancar dan terlaksana. Kekecewaan dari penundaan pernikahan, syukurnya, tak membuatnya hilang arah. Melihat sulitnya situasi, aku sempat berpikir untuk iya, melepas dan mengembalikan cincin ini padanya jika ia meminta. 

Setelah akhirnya menikah, aku bertanya: "Mengapa tiba-tiba tenang, setelah sebelumnya begitu ingin segera menikah?" Tidak tahu, jawabnya. Ia menambahi bahwa ada suara di batin yang memintanya tenang dan ia mendengarnya. Aku tak bisa memahami itu, tapi aku mempercayainya. Ada banyak hal di hidup kita yang di luar jangkauan akal. Bukan tak bisa dinalar, namun di luar jangkauan nalar. Wasilah. Taufik. Hal-hal semacam itu.

Pada 1 Desember 2022, Mamas lulus ujian komprehensif dan dinyatakan sebagai kandidat PhD. Aku, sedang berkutat dengan draf proposal tesis. Aku menjanjikan Bapak November bisa diterima. Namun prosesnya agak panjang. Aku bolak-balik perpustakaan Masjid al-Azhar, perpustakaan kampus di Sadis, dan berulang kali menemui Prof. Yusri. Kami berdiskusi banyak. Ia adalah pencerahan nalar. Alih-alih merasa tertekan sebab tenggat waktu habis, aku justru menikmatinya. Bapak tak keberatan soal itu.

Seminggu setelah ujian itu, aku menelponnya, memberi kabar bahwa Bapak memintanya pulang jika ia siap bertanggung jawab atasku kemudian. Itu permintaan tiba-tiba, tak ada yang menyangka sebab Bapak sedang sakit dan dalam pemulihan. Oktober pertengahan hingga akhir, Bapak dirawat di ICU RS Margono Purwokerto. Usus buntu, lambung bocor dan infeksi paru-paru, kata dokter. Itu sakit yang tiba-tiba sebab dua hari sebelum masuk ke RSUD Majenang sebelum dirujuk ke Margono, kami sempat berkelakar dalam telepon video; membicarakan apa saja, tertawa dan bertukar rasa. 

Biaya puluhan juta, fokus pulih kesehatan, proposal yang belum selesai membuatku, kami sekeluarga, dan Mamas tak berpikir akan menikah dalam waktu dekat. Bapak, melihat dari sudut yang lain. Di hampir tengah malam akhir November, Mama menelponku, menanyakan apakah aku bisa segera pulang. Tanpa latar suara di tengah malam begitu, jantungku sempat panik jangan-jangan telah terjadi sesuatu. Aku tenang saat ku tahu ternyata Bapak sedang beristirahat di samping Mama. 

Bapak memikirkan konsep acara sendirian. Saat fisik begitu payah, kurus dan suara serak, belum bisa berjalan sebab operasi di perut kiri bawah; Bapak memikirkan bagaimana pernikahanku nanti bisa berjalan lancar. Banyak pihak keluarga yang tak mengerti mengapa Bapak mengambil keputusan begitu. Mengagetkan. Aku masih tak mengerti sepenuhnya juga, namun aku punya hati yang terlatih untuk mempercayai Bapak, apapun keputusannya. Batinku berucap, jika aku tak mengerti Bapak, itu bukan karena ia yang sulit dimengerti, namun karena ada hal diketahui Bapak yang belum aku ketahui. Bapak telah memilih, dan ia, hampir, tak pernah salah dalam pilihannya. 

Aku pulang ke Indonesia pada 6 Januari 2023, setelah tujuh setengah tahun merantau. Aku tiba di Jakarta pada Sabtu siang, 7 Januari. Mamas, dari Bangkok tiba di bandara yang sama pagi harinya. Ia menungguiku sepagian, menjemputku di pintu kedatangan internasional dan membawaku pulang. Itu adalah pertemuan pertama kami sejak pinangan, sejak ia pertama kali meminang 2015. Aku di Krapyak, ia di Pandanaran waktu itu. Lagi, jika bukan pilihan-Nya, sedekat apapun jarak, seniat apapun hati, semesta tak mungkin merestui. 

Membawaku pulang.. 

Bapak, baru kali ini kau begitu percaya pada seseorang untuk membawa anakmu pulang. Setelah sekian tahun tak bertemu, kau bahkan merestui orang lain untuk membawa masuk ke rumahnya sebelum anakmu menginjak rumahnya sendiri. 

Ya.. dari bandara, mobil kami menuju Indramayu, mengantar Mamas ke rumahnya. Mobil berhenti di sebuah rumah sederhana nan hangat sekitar pukul delapan malam. Kakak-kakaknya berkerumun di halaman rumah. Dari jendela mobil, aku melihat mereka menelisik mana adiknya di dalam mobil. Setelah membereskan diri, ia turun dari mobil. Aku, lantas turun dari pintu sebelah kanan, menyalami kakak-kakaknya dan, Miminya. Aku dipeluk, kepalaku diciumi Mimi. Aku lantas diajak masuk, minum dan disuguhi banyak pacitan. 

Niatku turun dari mobil ialah menjamak-qashar maghrib-isya. Aku bergegas ke kamar mandi dan, airnya, sungguh sejuk. Kesejukan air itu entah mengapa membuat jiwaku damai dan merasa ini rumah. Air yang biasa dipakai bersuci dan berwudu oleh orang-orang saleh, begitu, bukan? Rasanya begitu. Seingatku, kulah-kulah di tempat Mamas Hafidh, Sidareja, saat aku nyantri dulu, begitu. Sejuk. 

Selepas salat, aku lantas membuka koper dibantu kakak ipar perempuan Mamas, Yu Mami namanya. Ulesnya lembut, dan aku sayang padanya. Kami memisahkan beberapa yang sudah ku siapkan untuk rumah ini. Sedikit. Semoga suatu waktu dapat memberi banyak dari rizki yang halal baik. Aku memberikan bungkusan itu ke Mimi di ruang tamu dan langsung pamitan pulang. Mama, Bapak dan Mamas Barok, juga Tata, sudah menunggu di rumah. Jangan sampai terlalu larut, pikirku, sebab perjalanan masih panjang. Indramayu-Majenang. 

Aku tiba di rumah sekitar pukul dua dini hari Ahad, 8 Januari. Mama, Mamas Barok menjemput di bahu jalan samping rumah. Gelap, sepi. Mama berkaca-kaca, memelukku erat tanpa bicara. Koper diangkat Mamas Barok, yang tadi sedang membereskan bingkisan makanan ringan di ruang tamu. Itu ratusan. Mamas sendirian. Begitu tulusnya urun rasa padaku. Makasih, Mamas.. 

Aku memasuki rumah. Ku dapati persiapan acara sudah sedang dimulai. Aku bertanya ke Mama di mana Bapak. Baru saja tidur, katanya. Aku menuju kamar wetan, kamar Bapak setelah sebelumnya menyalakan lampu kamarnya lewat kabel di sebuah terminal di ruang tamu di bawah televisi. Aku membuka pintunya.. Ia sedang tidur. Aku duduk di sampingnya, mencium tangan dan wajahnya. Begitu kurus.. begitu payah.. begitu kuat. Semburat optimis sehat tergaris jelas di sela keriput wajah tuanya. Aku bisa merasai itu. 

Aku bersyukur sungguh, aku masih bisa pulang mendapati Mama dan Bapak.

**

Mobil kami melaju sore hari Sabtu dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aku melihat sore hari Indonesia dan Indomie pertama kali dengannya. Aku merasa pulang. Batinku berbisik sejak tatap pertama perjumpaan kita bahwa kau, adalah rumah. 

Ia rumah, Bapak.. Aku akan belajar mempercayainya, sebagaimana aku mempercayaimu selama ini. 

Tuesday, 15 March 2022

Pergantian Musim

Maret 2022

Roti rasa keju Romawi ini tinggal seperempat bagian. Itu adalah makanan ringan dari kelas mantik pagi tadi. Mendedah model-model kias yang empat selama tiga jam membuatku lupa mendung dan dinginnya Kairo hari-hari ini. Beberapa hari yang lalu aku membaca berita singkat, tak sengaja muncul di dinding Instagram. Dengan bahasa Turki, ia mengabarkan bahwa salju di Eropa, termasuk Turki, mungkin tidak akan pernah berakhir. Aku menduga, musim dingin akan lebih panjang dari biasanya.

Musim dingin kerap disebut musim terberat di antara yang lain. Orang-orang suku Oguz di Anatolia di abad 13 selalu khawatir saat musim dingin menjelang. Mereka gusar. Mereka akan mengatur sedemikian rupa bahan makanan selama semusim ke depan. Selain disibukkan oleh pencarian persediaan bahan makan, mereka juga gelisah hendak ke arah mana tenda dialihkan. Suku Oguz, sering berpindah seiring perpindahan musim. Sebagaimana suku-suku Arab, yang juga berpindah-pindah mencari sumber mata air, suku Oguz berpindah mencari tempat selain lembah. Tempat yang cukup hangat untuk bertahan hidup selama salju menyelimuti tanahnya. 

Di musim dingin, aku lebih sering menggerutu. Badan yang menggigil dijerat angin membutuhkan lebih banyak kalori dari biasanya. Lantai dingin. Kaki enggan beranjak dari kasur. Dinding kamar mandi bak sekotak es. Menciduk segayung air di ember itu artinya menusuk tulang meski bentuknya cair, tak berkristal seperti salju. Tak ada pilihan selain berjaket tebal, menahan diri tak minum, sebab memasukkan air minum berisiko mengeluarkannya di kamar mandi. Aku memilih duduk di kamar, di lantai beralaskan lap pintu tamu. Aku kurang suka membaca di kasur, karena punggung jadi tidak tegak. Selain itu, aku rasa membaca di sana akan lebih meletihkan, karena lebih sering menghadapi kantuk, menghalaunya, daripada menyerap masuk kata dan makna dari buku ke otak yang juga hampir membeku. 

Kedinginan payah semacam ini tak pernah kurasa saat belajar dan mengajar, saat berinteraksi dengan orang lain. Kemarin lusa misalnya, angin dan matahari berebut masuk jendela ruang kelas. Matahari tak pelit menyiram meja panjang nan tua itu, membentuk siluet daun-daun jendela berlabuh di meja. Siluet dan sinar itu tak cukup mengusir kesuraman kelas. Mendung masih saja menggelayuti ruangan, suasana belajar di kelas, dan iklim belajar di bahwa langit Kairo secara menyeluruh. 

Ahad dan Sabtu kemarin adalah dua hari paling penting dari ribuan yang kulalui di Kairo. 

Tuesday, 16 October 2018

Malas Menulis

Kuliah sudah mulai, aku baru masuk dua kali, sejak dibuka tahun ajaran baru pada tiga mingguan yang lalu.

Tadi saya lihat, terakhir nyoret di sini ternyata Juli lalu. Saya teringat, selama liburan ternyata saya ngga ngapa-ngapain. Bahkan ngga nulis di blog sendiri. Entah.. Masih kemana aja, Mid?!

Inipun, rasanya ada banyaaak cerita yang pengen dituliskan, tapi gegara wifi lagi mutung, nulis blog dari hape itu kurang enak je.. Huhu. Jadi ketambahan malas nulisnya.

Intinya, hari ini, tadi ke Pusat Bahasa di Distrik Enam, Universitas al-Azhar. Sowan sama Usth. Nisrin.. Memberikan daftar nama anak yang besok mau diapresiasi dari pihak markaz. Alhamdulillah..

Abis itu, lanjut ke Azhar, ngaji sama Prof. Dr. Abu Musa, Guru Besar Balaghah di Fakultas Bahasa Arab, dan Anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar. Sampai setengah dua siang, saya pulang.

Ini sudah adzan Ashar.. Pengen ke Markaz Qawmi tapi ko rada mager. Heu. Abis ini kw downtown sama Undul.. Terus ketemu Dr. Samih. Entah yang mana yang duluan, intinya itu.

Allah... Paringi kawula taufikkk. 

Sunday, 29 July 2018

Nano-nano Rasanya

Bismillah..

Pagi ini, selesai piket masak sekitar jam sepuluhan. Emm agak lama, sebab selagi masak, bolak-balik liat wasap. Baru kali ini aja kok, kalo ngga mendesak juga, saya ngga suka buka-buka hape selagi kerja (piket masak, belajar, emm apapun itu yang bisa disebut kerja). Ehe. 

Semalem, seorang teman saya menanyakan foto Dr. Sonia. Pikirku, emm kayaknya untuk seminar. Untuk hal ini, saya udah cukup seneng, sebab ada yang menanti kehadiran beliau di seminar selain saya. :')) Sebenarnya, yang lain menanti sih.. Hanya saja, ngga sekuat saya. Iya sebab saya terlanjur melihat beliau sebagai sosok multidimensi yang mungkin, tidak diliaht oleh teman-teman selain saya. Guru, jelas. Ibu, kakak, teman, dan yang baru aku rasa akhir-akhir ini ialah.. Beliau ternyata murabbirruh, bagi diri ini. 

Setelah kukirim poto beliau, teman saya ini berujar, "Ternyata benar :D". Saya curiga, lantas kutanya, "Apanya?" Dari sini, obrolan pagi ini (belum beberes abis masak, belum ke kamar mandi, biarin) terus berlanjut. Hingga hatiku deg-degan saat tahu, bahwa beliau, Dr. Sonia, kini ada di Kairo. Aaaaa. Buncah bahagia campur sesal sebab kemarin ngga ikut ngaji memenuhi ruang tengah. Meski ini musim panas, ternyata lebih panas dari suasana hati yang bergemuruh. Getun. Saya sangat menyesal, merasa ditampar keras pipi kiri dan kanan. Pipi kiri, sebab mau ngaji, tapi malah ngga jadi. Sebab ketiduran lagi, setelah ketiduran yang ke berapa kali sejak bangun jam setengah dua kemarin. Pipi kanan, sebab, sekaliber Dr. Sonia aja masih berkenan mengaji, duduk bersimpuh di deoan Dr. Hasan Syafii.. Lha, ini, saya malah, ke mana aja?! :'(

Dari jawaban teman saya, ada tiga nama guru spesial yang disebut. Saya akhirnya memahami, ketiga guru ini, bagi saya, ada di kedudukan istimewa.. Dr. Hasan Syafii, meski saya belum ngaji secara langsung hingga hari ini (jadi tau kan, betapa saya di sini, selama ini, entah kemana aja, -_-) tapi beliau sangat saya kagumi. Beliau sudah sepuh. Beliau ketua Majma' al-Lughah yang ada di Zamalek sana. 

Kedua, Dr. Sonia.. Beliau, sebagaimana disinggung tadi. Saya kenal beliau sejak tingkat satu, saat diajar Mantik. Kemudian bertemu lagi di tingkat dua, beliau mendidik kami melalui mata kuliah Tauhid. Di samping mengaji di Masjid al-Azhar, di kuliah, saya cukup intens komunikasi dengan beliau lewat wa. Beliau sangat welcome, sangat perhatian dengan mahasiswinya, terutama pendatang. Ada banyak cerita dan pengalaman dengan beliau. Yah.. Barangkali, saya belum merasakan penyesalan sedalam ini atas apa yang terjadi, kecuali dua hal. Pertama, saat penutupan ngaji mantik dan tauhid  bareng beliau di Masjid al-Azhar, akhir Februari lalu. Kedua, mengetahui bahwa Dr. Sonia ikut mengaji Dr. Hasan Syafii, yang padahal kemarin sudah niat pengen hadir juga.. Namun urung. Hmpph. Semoga tiada penyesalan semacam ini, untuk ketiga kalinya. 

Ketiga, Dr. Muhanna.. Beliau, murabbirruh bagi saya, mungkin teman-teman lain juga. Beliau mengampu kajian tasawuf di tiga kali pertemuan dalam seminggu. Hari Rabu, kita ada Qawāid al-Tashawwuf, sore hari di Dzullah Utsmāniyyah, di mihrab utama Masjid al-Azhar. Berikutnya hari Jumat, tasawuf juga, kitabnya Ihyā Ulūmiddīn, di tempat yang sama. Alhamdulillah.. Insya Allah saya terus mulazamah dengan kedua majelis ini. Terakhir, ada Syarh al-Hikam al-Athāiyyah, Sabtu bakda Maghrib di Masjid Sayidah Nafisah, dekat benteng Shalahudddin al-Ayyubi. Yang ini, semoga Allah memperkenankan saya untuk duduk mendengar lembutnya kata-kata beliau. 

Ketiga nama ulama al-Azhar tadi, ternyata ialah sosok yang telah menempati sebagian ruang di hati ini. Dr. Muhanna, Dr. Hasan, Dr. Sonia, dalam hubungan ketiganya terdapat ikatan guru-murid yang sangat indah. Sejak dua tahun saya kenal beliau, saya melihat betapa Dr. Sonia sangat ta'dzim terhadap guru-guru beliau, dan masyayikh Azhar secara umum. Betapa beliau sangat bangga terhadap almamaternya. Betapa beliau dahulu, sosok pekerja keras dan ulet dalam belajar, sehingga bisa sampai dalam kedudukan seperti sekarang, dan dengan penuh kepercayaan diri berbangga atas al-Azhar. Pada beliau, saya melihat, bahwa untuk berbangga, kita mesti mati-matian menjaga nama baik dan jujur menapak jalan hidup sesuai manhajnya. Pada al-Azhar.. Saya memahami apa makna perjuangan menggali ilmu yang sejati. Meski belum, saya bertekad supaya bisa sehebat pendahulu kami di sini.. Dengan cita-cita dan semangat untuk menerima estafet dalam berjuang dan khidmah terhadap umat.

Intinya, saat ini, saya lagi gemes sama diri sendiri. Yhaa kemana ajaa selama ini. Miiid, Mid. Kapok kan?!

Semoga semangat belajar atau apapun itu, bukan karena seseorang. Bukan karena Dr. Sonia, bukan sebab Dr. Muhanna, Usth. Marwa, Usth. Nisrin atau beliau-beliau yang saya merasa dekat dan beliau juga ngga hanya sekali, mengungkapkan hal serupa, padaku. Hehe. Saya mesti memahami, kudu ada semangat dan kesadaran diri bahwa, beliau yang sudah ada di kursi dosen, syekh, profesor, semuanya berangkat dari ketekunan, keprihatinan, menahan lara dalam menuntut ilmu, dan berbagai upaya dalam menggapai cita-cita. Menjadi anak didik beliau artinya harus siap jungkir balik. Menjadi santri al-Azhar, artinya kudu siap belajar tenanan. Sebab sudah jauh dari rumah, kalau masih biasa aja, ya untuk apa?

Semoga tekad saya hari ini dicatat malaikat, untuk selalu mengingatkan saya bahwa masa ini, masa-masa untuk prihatin. Masa-masa mengilhami setiap laku dan cara pikir dari beliau-beliau guru dan masyayikh saya di sini. Bukan justru hanya berbangga, sebab saya berkesempatan meraup ilmu dari mereka. Bukan justru rajin ngutip quotesnya, ditaruh di wa, ig, fb atau apapun hal-hal sejenis itu, tapi nol dalam pengilhaman laku dan cara pikir. Atau kalau tidak nol, paling tidak, terlihat tiadanya usaha serupa, namun tenggelam dalam buncah bangga tak terasa. 

Pada akhirnya, semoga Dr. Sonia berkenan menerima undangan seminar kami, dalam rangkaian acara Grand Closing Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin 2017/2018. 

Ahad, 29/7/2018 setelah adzan Dhuhur. 

Friday, 27 July 2018

Sibuk

Beberapa saat lalu sempat dibuat badmood sebab wifi lagi mutung. Ala kulli haal alhamdulillah..

Sejak awal bulan ini, aku merasakan kurangnya waktu untuk diri sendiri. Senat, Bedug, kajian, talaqqi, sekolah menulis, kelas opini, hingga kegiatan rutinan seminggu sekali memenuhi jadwal harianku. Semua ini membuatku cukup mengerti, bahwa semakin dewasa, amanah dan keputusan yang diambil mestinya semakin bijak. 

Aku sampai lupa. Kemarin, rasanya ada banyak hal yang pengen kutulis. Sayangnya, di malam hari, sering aku tak kuasa untuk membuka laptop, menukiskannya di sini. Selain lelah, wifi juga sama sekali tak mendukung. Yang kedua ini, jauh lebih menyakitkan daripada lainnya. Sama bayar, koneksi tetap lambat. 

Yasudah. Yang terkini ialah hasil ujian. Ada banyak kegiatan yang menguras tenaga, namun semuanya entah untuk apa. Kadang hati menghendaki, sudah mengaji saja. Bekal untuk pulang ke rumah. Kesibukanmu selain mengaji itu kurang guna. Iya, di satu sisi, aku membenarkannya. Namun di sisi lain, aku berpikir: kenyataan bahwa aku hidup di zaman entah ini, aku mesti berjalan mengiringi tabiat zaman di mana dan kapan aku berada. Zaman yang, ketika kita hanya berkutat dengan tradisi semacam mengaji kitab kuning, menghafal matan, dan sejenisnya, aku merasa, kita akan selamanya hidup dengan diri sendiri, jika terus seperti itu. 

Zaman ini, menuntut aku setidaknya, atau kita, untuk bisa menghidupi masa. Aku tidak berpikir bahwa yang khusyuk mengaji, tidak akan bisa mengimbangi tuntutan zaman. Tidak pupa menjamin bahwa yang sibuk dengan segala macam kesibukannya, akan melenggang dan mempunyai otoritas untuk mengiringi zaman. Barangkali, ketika keduanya sejalan, inilah yang menurutku cara paling ideal untuk bisa hidup di zaman seperti sekarang. Mengaji, namun juga bisa bersosialisasi. 

Kembali ke hasil ujian (natijah). 
Alhamdulillah, alhamdulillah.. Sebenarnya aku bingung mesti berekspresi macam apa. Allah selalu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Natijah tahun ini, membuktikan separuh awal dari kata bijak "bil imtihān yukramu al-mar'u aw yuhān".

Berkat doa dari banyak pihak; mama, bapak, guru, teman, kerabat, dan yang aku tahu siapa itu, alhamdulillah, pihak kantor administrasi menuliskan bahwa aku meraih predikat istimewa. 

Tentunya, ini menjadi sebuah alarm tersendiri bagiku. Pertama, bahwa, apapun yang kita lakukan, mesti dilandasi dengan niat yang baik. Meski masalah niat tak bisa dilihat ketika di dalam hati, namun bisa dilihat pada apa yang dilakukan di luar hati. 

Kedua, bahwa, Allah Maha Segala-galanya. Bisa membuat haru siapapun yang berprasangka di luar kehendak-Nya. 

Selama kuliah kemarin, aku jarang sekali masuk kelas. Aku selalu lebih sibuk di luar kampus, daripada duduk dan mendengar model ceramah yabg disampaikan para dosen. Kecuali satu, mata kuliah Tauhid, aku tak pernah benar-benar tertarik mengikuti kegiatan di kelas. 

Ini barangkali hal yang kurang baik. Namun, dengan segala macam kesibukan di luar kampus, aku ditampar, atas banyak kekhawatiran kemarin bahwa jika niatmu lurus, Allah yang akan mengurus segala perkaramu. Jika kita sepenuh hati khidmah di jalan-Nya, Allah akan selalu menunjukkan taufik menuju pintu-Nya. 

Kadang kala aku merasa belum berhak. Aku berpikir bahwa ini ujian dari-Nya. Justru ketika aku telah sampai di tahap ini, aku merasa semakin berat memikul amanah sebagai seorang pelajar yang kata orang, sibuk, organisasi, ada di mana-mana, tapi akademik tetap keren. Aku semakin membutuhkan rahmat-Nya agar bisa mempertahankan dan meningkatkan terus, apa yang telah aku capai di tahun sebelumnya. 

Meski tahun ini cukup banyak yang mendapat predikat itu, aku bersyukur, sebab Allah memberi kesempatan untuk ada di barisan mereka, yang notabene aktif kuliah. Ini secara hasil akhir. Di sisi lainnya, Allah izinkan aku untuk turut aktif di beberapa organisasi dan komunitas belajar yang, pada akhirnya, aku tak ketinggalan jauh sekali dari mereka pula. 

Allah.. Sebanyak apapun aku bersyukur, tetaplah itu hanya setitik, sedikit. 

Darrasa, 28 Juli 2018. 
Semoga rumah ini menjadi satu-satunya tempat aku kembali, selama di sini. 

Monday, 16 July 2018

Permisif

Baiklah, aku sudah terlampau lama tidak menulis di sini.

Sejak awal bulan Juli ini, ada banyak sekali kegiatan yang harus kuikuti. Mengapa harus? Sebab, sederet kesibukan itu bukan tanpa alasan. Ada komitmen yang mesti membuatku terikat, sehingga dengan itu sangat bisa diketahui, seberapa kuatkah komitmen kita atas sesuatu. Atau sebaliknya, seberapa lalai dan lemah kita dalam menghadapi jalan hidup semacam itu.

Seberapa sibuk sih? Entah. Tapi intinya, saat itu aku merasa jadi orang paling sibuk sedunia rumah. Siang, jelas di luar. Pulang malem, paling cepet sore hari menjelang maghrib. Khusus hari Senin dan Kamis, sorenya, jam 8 malam harus ke Rumah Syariah, belajar bareng anak-anak baru, sampe jam 10. Jadi kalo Kamis, pagi sampe sore di SMW. Bakda asharnya, ada jadwal di ruwaq Azhar. Ini masih tanda tanya si sebenernya, sebab kalo kelas itu sering kali kita molor. Ngga tepat waktu. Jadi, rawan terlewat jadwal ngaji di sore harinya. Pulang, langsung mandi, siap-siap ke Rumah Syariah. Heuhe.

Entah, dengan segala ke-kemrungsung-an ini, aku merasa ada yang hilang dari aku dulu. Hatiku tetap kering. Ternyata benar, berkawan dengan banyak teman tak cukup membuat hatimu tenang. Terlalu sibuk bersosialisasi, sehingga lupa sekadar introspeksi diri. Terlalu sering keluar, hingga tak ada waktu untuk berkelakar di kamar dan belajar. 

Empat hari di awal bulan lalu, aku mengedit buletin Bedug, berturut-turut. Setelah itu, masuk di kelas SMW. Kelas Opini Bedug, rutinan Jumat; Kelas Ilmu Kalam, ditambah ngaji di ruwaq ilmu-ilmu syariat di Masjid al-Azhar. Yaa, ngga selalu di masjid sih, ada beberapa yang mesti di ruang kuliah Fakultas Ushuluddin, fakultas kesayangan.

Pada akhirnya, aku mensyukuri bahwa Allah masih memberikanku umur hingga hari ini, sehingga bisa melihat apa yang selama ini aku lakukan. Termasuk kemarin, saat aku merasa bosan, tak bisa mengatur nutrisi untuk diri sendiri, merasa banyak waktu terbuang di luar bersama kawan, aku merajuk. Pengen rasanya, sekali saja di rumah pada siang hari. Lagi-lagi, waktunya tidak pas. Saat itu waktu evaluasi buletin edisi 23 dan aku tidak menghadirinya. Aku menyesal. Awalnya, aku merasa boleh-boleh saja. Namun setelah dirasa, tak elok juga. 

Merasa boleh, ialah saat dimana keterjagaan komitmen kita diuji. Aku gagal saat ujian komitemn kemarin. Aku mengiyakan kepenatanku butuh waktu sejenak untuk sendiri, menjauh dari keriuhan orang-orang di sana. Semua kesibukan yang pada awalnya mampu kujaga dengan baik, pada akhirnya buyar begitu saja saat aku permisif terhadap diri sendiri. 

Pagi menjelang siang, Kairo, 17 Juli 2018 08.29 AM.

Monday, 4 June 2018

Melepas Kangen

Sore ini, mendung. Akhir-akhir ini suasana di Kairo tak begitu panas.Alhamdulillah, hawa seperti ini sangat berarti bagi kami yang sedang menempuh UAS. 

Siang tadi ujian Tayyarat al-Fikriyyah al-Mu'ashirah (tapi saku salah sebut, malah mu'asharah, di depan Ustadzah Marwa pula). Alhamdulillah, kata Ertugrul, "al-juhdu minna wa al-tawfiqu min Allah." Kita wajib berusaha, di tangan Allahlah segala taufik. 

Setelah mampir di hammam sebentar, aku keluar dari gedung B FDI Banat Kaio. Menuruni tangga, aku melihat Undul telah menantiku, lama mungkin. Kami selalu berangkat-pulang bareng. Semoga Allah melanggengkan persahabatan kami. 

Aku keluarkan hape. Aku memencet ikon 'Kontak', mencari sebuah nama. Urung, aku akhirnya membuka kamera, ada teman pengen selfi bareng. Hehe. Selepas itu, kuteruskan niatku tadi.

Aku menelepon. Beberapa saat berdering akhirnya terdengar suara 'klik', jawaban panggilan dari sana. Awalnya sedikit gemetar, namun kuusahakan biasa, sebab kangen, dan kayaknya bakal cerita banyak. Hehe. 

"Assalamualaikum, Hamidah," sapa terdengar dari sana. "Waalaikumsalam, Ustadzati," dengan nada semringah aku jawab salam itu. Salam yang, beberapa bulan ini tak kudengar. Salam yang, selalau datang di mimpi di kala kangen. Beliau termasuk orang terkasihku. Aku bersaksi, demi Allah, aku menyayangi beliau, sebagaimana beliau bersaksi pada-Nya, bahwa ia menyayangiku. Berkali-kali aku dengar pengakuan ini dari beliau. Rasanya, hati lapang-selapang-lapangnya.

Setelah bertukar kabar, aku langsung masuk ke inti, "Selamat ulang tahun, Ustadzah. Barakallah fi 'umrik." Beliau menjawab dengan nada bahagia, mungkin semacam kejutan, di siang hari Ramadan ada yang memberi tahniah ulang tahun. Selepas itu, kami membahas banyak hal, termasuk bagaimana kabar suami beliau. "Apakah membuatmu marah, Ustadzah?" "Iya, sedikit. Alhamdulillah ia... " beliau melanjutkan, semangat cerita tentang suaminya, diselingi tawa renyah. Bangga dan bahagia, batinku. :)

Alhamdulillah. Aku cerita kalau hari itu baru selesai ujian, masih ada seminggu lagi. Bahwa, akhir ujian, ialah akhir Rmadan. Beliau sedikit terperangah, lantas bertanya, ujian apa hari ini? Tayyarat, jawabku. Aha.. ini penting, sambung beliau. Beajar apa aja? Tanya beliau. Ateis(me), globalisasi, liberalism dan sejenisnya, Ustazdah. Sebab kemunculan, cara menghadapi dan semacam itulah. Aa, moga-moga mengantarkan pada hal-hal yang baik dan benar. Aamiin, aku mengiyakan.

Setelah beberapa waktu saat aku masih berbicara dengan beliau, datang Lathif. Aku menyapa dengan isyarat tangan, ia mendekat. Lantas aku bilang, Ustadzah, ini Lathif lagi sama aku, pengen bilang sepatah-dua patah kata. Aku pindah tangankan hape, ke Lathif. Ia cerita sama Ustadzah tentang ujian, tanya kabar, Ramadan dan sejenis itu. Pada akhirnya, ia hanya ingin menyampaikan tahniah ulang tahun, tak kasi tau sebelumnya. Hehe, bahagianya hari itu. 

Aku mohon pamit, sebab Undul mau beli sesuatu di Maktabah Star. Tamam, beliau mengizinkan, namun sebelum ditutup beliau memotong, "Tapi aku pengen nyempein ini ke kamu, beneran." Aku pasang telinga siap mendengarkan. Beliau secara langsung pengen nyampein sesuatu, tandanya aku ngga ganggu waktu beliau, beliau lagi selo, dan seneng aku telpon. Hehe. 

Beliau bilang, katanya, kami seneng banget, kamu ngomong pake bahasa fusha kek gini. Bisa ngomong banyak, bias nyusun kalimat dengan baik, ngomongnya lancer, Alhamdulillah. Kami seneng sekali. Kata beliau. Aah, aku malu. Aku bilang, ini belum aa-apa, Ust. Jalanku masih panjang, dan belum berhak kek gitu. Engga, berhak. Kamu berhak, Nda. Sebab usaha keras dan ijtihadmu setelah taufik Allah, kamu bias meraihnya. Dipesani atau tidak, pokoknya harus tekun dan rajin. Ini pesan ustadzah. Pun, kamu itu contoh yang selalu tak sampaikan ke anak-anak, contoh santri yang berhasil dan ngomong Arab fusha. Ya Allah, aku merasa di hadapan beliau saat itu.

Akhirnya, aku sambal jalan ke maktabah, kuteruskan nelpon beliau. Ngobrol banyak hal, terutama tentang pilihan jurusan di tahun ketika ini, insya Allah. Aku cerita ke beliau tentang keinginanku untuk masuk akidah-filsafat atau tafsir al-Quran. Beliau diam sebentar, lantas membuka: Semuanya tergantung keinginanmu, Nda. Tapi, tak bilang, ini nasihatku... Beliau lanjut cerita benyak, bagaimana sekiranya aku milih tafsir. Beliau mensyen kitab Tafsir wa al-Mufassirun karya Syekh Dzahabi juga. Bahwa kau akan bias ngerti keindahan makna al-Quran lebih dalam, bias tau tafsir yang diterima dari yang ditolak, dan seterusnya. Hingga saat aku tiba di maktabah, beliau sampe di bagian jurusan filsafat-akidah. Tetiba, telepon mati. Aku dapat pesan, pulsamu tingggal 0,5 sekian. Yah, pulsa habis. 

Aku tanya Undul, dia ngga punya pulsa juga. Kucoba berkali-kali, hape ini menolak sinyal untuk kesana. Ah, yasudah. Aku kirim pesan wa saja nanti, setiba di rumah, batinku. Tak selang satu menit, beliau memanggil. Tanya kenapa mati, dan seterusnya. Hal ini (putus sinyal) terjadi sampe tiga kali. Sebanyak itu pula, beliau meneleponku ulang. Bahagia, namun malu juga. Sebab aku sudah merepotkan beliau, menghabiskan pulsa pula. Bagaimana tidak, sejak telepon terputus kali pertama tadi, kami masih ngobrol lebih dari tiga puluh menit. Waktu yang cukup panjang, untukku, yang sebatas anak didik beliau tiga tahunan lalu di DL, yang barangkali ngga ada teman yang masih kontak sesering ini, untuk mendengar cerita dan tawa renyah beliau. 

Cerita berlanjut, kami tertawa, sejenak saksama mendengar beliau, sejenak manggut-manggut, sesekali agak bersorak. Aku tanya buku beliau yang Alhamdulillah sudah ketemu, sudah diprin, beliau minta doa agar segera rampung tesisnya.. Terus menyinggung dedek bayi hehe. Aku ngga jelas bilangnya, isyarat-isyarat gitu, kata beliau: Opo to Nda yang jelas. Akhirnya, aku terang-terangan, udah ada dedek bayi belum, ustadzah? Hehe. Doain aja, semoga segera. 

Masjid sebelah sudah iqamah. Selamat berbuka. Selamat menjalankan shalat maghrib, isya dan tarawih. 

16 Ramadan 1439/ 4 Juni 2018. 

Friday, 13 April 2018

Ngobrol Bareng Dr. Refaat Fauzi

Kami berempat sedang menghabiskan jajan beli di kantin kampus tadi. Duduk di bangku di pinggir jalan, di samping kantin, kami akan berangkat ke Sabi'. Siang itu, rencananya kami akan sowan ke Dr. Refaat Fauzi, seorang ahli fikih, muhaddits, dosen dan ketua jurusan Syariah Islamiyyah di Fakultas Darul Ulum Universitas Kairo. Jadilah kami berangkat. Awalnya, saya ragu untuk melangkah, sebab badan sedang tidak fit. Terlalu sibuk sejak berminggu-minggu lalu, hingga tidur asal-asalan, tidak teratur, dan diktat kuliah pun baru sekali putaran. Ini baru selesai ngedit Bedug edisi 22, setelah ini ngaji Dr. Mehanna di Masjid al-Azhar. Selepas itu, cus ke diktat! Janji, Mid. -_-

Sampailah kami di titik kumpul. Kami berkumpul menunggu rombongan dari Asyir mupun Darrasa, di sebeuha sekolah, Namanya: Madrasah Sayidah Nafisah li al-Tsanawiyyah Banat. Hmm, sejenis Mts apa ya, kalo di Indonesia. Di tembok seberang jalan, tembok sekolah ini maksudnya, ada banya kata-kata mutiara. Di antaranya, 'Tanyalah pada ilmu pengetahuan, sebab ia tidak akan menanyakan pada yang lain'. 'Jangan kau dekati Nil, jika kau berdiam tak menjalankan kewajiban. Ketahuilah, air Nil yang jernih tidak diciptakan untuk mereka (dan dirimu) yang malas-malasan. Ada ayat-ayat al-Quran, seperti surat Nun. Semuanya cantik, semuanya indah. Kaligrafinya mengetuk pintu kesadaran paling bawah sadar siapapun yang melihatnya. Atau yang tak sengaja melemparkan pandangan pada tembok itu ketika melintas menuju Bawwabat, Asyir, Zahra, atau kemanapun mereka pergi membawa diri.

 Kau tau? Sesampainya kami di sana, saya dibuat tercengang. Perpustakaan beliau gede banget nget. Untuk ukuran dosen, ini menurut saya sangat besar dan tidak terbayang betapa beliau kutu buku. Lemari saya di kamar? Yah, enggak ada apa-apanya dengan punya beliau. Lemari saya baru 0,001 lemari buku beliau. Gede ruangnya pun, lebih gede dari rumah kami, hehehe. Saya tidak akan habis membaca itu hingga 60 tahunan, mungkin. Aha, bahkan, took-took buku di sepanjang gang menuju rumah pun, masih jauh berbeda. Sebab, kebanyakan took buku ini hanya satu petak ruangan kamarku, atau paling mentok satu ruangan tamu rumah kami. Temboknya bias diambil dan dibaca. Hehehe. 

Beliau, sependek yang saya tahu ialah dosen di Darul Ulum, Universitas Kairo. Fakultas yang banyak melahirkan cendekiawan Mesir. Fakultas favorit, meski saya belum dan mungkin tidak akan pernah icip-icip belajar di kelasnya. He. Wajahnya teduh. Beliau orang syariah, tapi spesialisasinya Hadits. Beliau banyak menahkik kitab, termasuk yang kemarin kami ijazahan padanya, al-Kalim al-Thayyib punya Ibnu Taimiyyah. Isinya tentang dzikir; keutamaan, macam-macam dan sebagainya. Kami membaca satu fasal, 'Kalian lanjutkan sendiri di rumah', pesannya. 'Atau silakan kalau mau dating, kami membaca ini setiap usai shubuh, setiap pagi kecuali Jumat', tambahnya. 

Sebelum memberi kami ijazah, beliau terlebih dahulu memberikan nasihat, wejangan kepada kami. Ada tiga, pertama takwa. Sebagaimana kita tau, Allah selalu mengabarkan pada kita bahwa jika engkau bertakwa, Aku akan mengajarkan ilmu padamu. Dan, ini mestinya terpatri dalam setiap insan, apalagi penuntut ilmu (katanya). Takwa itu wiqayah, penjagaan. Menjaga diri dari hal yang tidak Allah ridai, menjaga diri dalam senantiasa melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 

Kedua, dzikir. Kita berdzikir, artinya kita mengingat Allah. Dia mengabarkan pada kita bahwa di saat ini, Ia juga akan mengingat kita, bahkan lebih banyak daripada kita mengingatnya. Ia akan bersama dengan-Nya, disadari ataupun tidak. Selain hati menjadi tenang, dzikir ini akan membukakan pintu-pintu gelap dalam diri kita, diajari sama Allah, dekat, dirahmati, dan... bayangkan sendiri jika kita dekat dengan seseorang, kita akan memberikan apapun yang ia minta. Bahakn, jikapun tidak, ia akan memberikan yang terbaik untuk yang dikasihinya. Sempatkan waktu pagi setengah jam, sore seperempat jam, untuk dzikir. Sudah gitu aja, pesannya.

Terakhir, rajin dan tekunlah membaca. Ini... akan panjang. Hehe. Kemarin beliau sempat menyinggung tentang Ibnu Taimiyyah, Wahabiyah, maqashid syariah, perjalanan intelektual beliau dan lainnya masih banyak. 

Beliau mengatakan bahwa, perpustakaan ini dimulai sejak tahun 77an. Karena beliau suka baca, suka beli, dikumpulkan akhirnya. Selama kurang lebih 48 tahun akhirnya jadi seperti apa yang kalian lihat sekarang, tambah beliau.

pukul 11:15 Jumat pagi, sambil antri hammam, dan pasang mood untuk sadar diri: baca diktat.
Ayooo, Mid! Gek ndang lhoo. -__-

Nyuwun pangestu, rencang sedoyo, siapapun yang baca coretan ini. Tapi nggeh ngapunten, saya hanya bias ucap terima kasih doanya, sebab sebaik-baik terima kasih sudah diwakili Allahku. Mangke disampaikan oleh malaikat. Maturnuwun.

Friday, 30 March 2018

Sarapan

Semalam, saya ditanya oleh Kautsar, teman Turki yang pernah saya ceritakan itu. Besok Jumat kosong tidak? Tidak, jawabku. Ada acara kah? Iya. Jam berapa? Bakda Jumatan hingga waktu isya. Dia masih saja mengetik, terus menanyaiku kapan ada waktu luang, ia ingin bertemu. 

Ia memintaku untuk datang ke rumahnya, di Hayy Sabi', pukul 10 waktu Kairo. Awalnya daku mengiyakan, namun tetap saja, sampai di sana pukul 11.30an. Hehe. Sesampainya di minimarket Misr dan Sudan saya menelepon. Menanyakan posisi ia di mana. Ia memberikan arahan untukku berjalan, lurus terus, terus, aku melihatmu, katanya. Terus, ia terus melihatku dari balik jendela flat. Sambil kupegang telepon di telinga kanan, mataku mencari-cari di jendela mana kiranya ia berdiri. Akhirnya saya melihatnya, dan kututup telepon dengan info baru: gedung 13 flat 3/7. Sesampainya di depan gerbag pintu, saya agak kawatir, ini bukan pintunya. Sebab, dilihat dari jenis gerbang, ini pasti flat yang cukup keren. Saya ragu, hingga ada seorang paman yang menanyaiku, 'Mau ke temen mahasiswa?' dengan logat Mesirnya. 'Iya', jawabku. Ini, yang ini pintunya. Kebetulan, sebelum kupencet bel, ada paman lain yang hendak keluar, langsung saya masuk setelah salam. 

Ada di lantai 3, flat 7. Saya pencet bel, dan dibuka oleh Kautsar beberapa saat kemudian. Kami berpelukan erat, layaknya sahabat bertahun tak bersua. Saya langsung dipersilakan duduk, diambilkan minum dan langsung dihidangkan menu. Sepertinya, mereka rela menunggu sarapan jamak ta'khir (plus makan siang) gegara menungguiku. Hehe. 

Menunya, ada teh Turki, semacam syatthah kalo di Mesir tapi ini khas Turki juga. Pancake madu, keju, roti isy, acar dan air putih. Mereka berenam, saya hanya memutar mata mengikuti gerak mereka menyiapkan itu semua. Mereka ramah. 

karena enggak sempat ambil foto, ini saya ambil dari Google, hehe.

Hidangan lesehan itu sederhana, tapi bersahaja. Seperti di film Ertugrul gitu, kitanya melingkar. Menunya di tengah. Makannya sedikit, hehe. Tersu, mereka kalem, enggak ada gelak tawa seperti kita di rumah biasanya. Ohya, piringnya imut-imut, isinya pun beberapa sendok saja. Tersu, gelas tehnya, persis kek di foto di atas. Teh Turki.. Mereka enggak begitu suka kopi. Meski beberapa menit saja di ruangan itu, saya pulang dengan banyak pertanyan, jawaban, tanggapan dan kesan terhadap apa yang saya lihat tadi di sana. Kebersihan, kebersamaa, keindahan, kedisiplinan dan tanggung jawab, ternyata seindah itu. Kita hanya akan menyadari ketika kita dihadapkan dengan perspektif yang lain. Dari sini, jika naluri kesadaran masih cukup asali, kita akan refleks membandingkan dengan ihwal kehidupan keseharian kita, untuk kemudian diperbaiki, biasanya.

Ada enam mahasiswi yang tinggal di situ. Satu dari Albania, ada lagi dari Somalia (atau Nigeria, intinya sebangsa itu) namanya Fatma. Temen Albania tadi namanya Sijina (entah gimana nulis yang bener wkwk), intinya ia wajahnya Turkish banget, tapi ternyata bukan. Ia fasih bahasa Turki karena ia sempat belajar saat di setingkat SMA dulu. Turki punya perwakilan khusus, lembaga yang mengajarkan bahasa di banyak negara dunia. 

Kesan saya saat berada di sana ialah, mereka sangat lembut. Rapi, solid, dan santun. Mereka, meski sesama putri tetap memakai penutup kepala, kecuali satu dari mereka. Pkaiannya khas mahasiswi luar negeri yang sering saya temui di film-film Eropa. Ruang tamunya sebesar aula KSW, hehe. Luas, bersih, teratur dan terlihat kalau penghuninya disiplin. 

Kami sarapan bersama, sambil ngobrol ringan. Seusai sarapan pun, masih kami lanjutkan (dasar cewek wkwk). Ia cerita kalau Dr. Sonia mengirim pesan, menanyakan kabar, dan kangen intinya. Hehe, saya tau bagaimana hubungan keduanya, sangat dekat. Kami saling tukar cerita, meski sering kali saya dibuli karena jarang masuk kuliah. Masalah aja, katanya. :v

Akhirnya, makasih yang terdalam, Kautsar. 
Moga-moga sukses selalu menyertai kita. Aamiin. 
Sarapan tadi, meski saya lagi makan sedikit, bahagia masih banyak tersisa. Hehehe. 

*di 11.58 waktu Kairo, selepas hunting buku di Syari' Mu'izz.

Sunday, 25 March 2018

Tak Terduga

Rabu lalu, 20/3 aku berjalan melewati gang belakang kampus. Kalimat Dr. Muhanna di kelas tasawuf tadi terngiang, mengendap di benak. Ada rasa malu, bahagia, haru dan entah yang bercampur menjadi satu. Sekian lama aku tidak rutin lagi menghadiri majelis ngaji para syekh. Terasa kering jiwa ini. Terlalu sibuk di urusan yang entah, aku menganggapnya semu. Terlalu melelahkan badan dan pikiran, tapi mengeringkan jiwa dan menyuramkan kalbu. Aku, entah seberapa jauh telah menyimpang dari yang dulu pernah aku lalui. Aku menemui diriku yang baru, aneh, kering, sok sibuk, dan kabur, namun aku tak bias banyak berbuat dan mengelak. Aku selalu menjeit pada nurani, sekiranya ia mau mengembalikanku pada apa yang sebenarnya aku pergi mencarinya. 

Aku berjalan menelusuri gang kecil tadi. Agak tergesa, aku menuju salah satu took buku di deret pingggiran gang tadi. Toko buku ini terletak di pinggir kiri jalan dari arah kampus, RS Hussein ataupun Nadi Qaumi. Aku melihat pajangna buku yang tergeletak berjejeran di Tanah, hanya beralaskan kain atau sekadar karton. Beberapa buku telah ada di rak kamarku, namun banyak yang masih belum kupunya. 

Aku menanyakan tentang Hasyiah al-Bayjuri, kitab fikih Imam Syafii. Sang penjual langsung menunjukkan padaku sebuah kitab dua jilid, lembaran kertas kuning, cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyah Beirut. Setelah kutimbang, aku tak jadi mengambil buku tadi. Pertama, aku ingin membandingkan harga dengan toko yang lain. Kedua, aku belum tau, apakah benar buku ini yang dipakai dalam pengajian kitab Habib Ahmad al-Maqdi di Rawdlat al-Naem nanti selepas maghrib. Akhirnya, aku beranjak melihat kitab lainnya. 

Mataku tersangkut pada beberapa tumpukan kitab, ketika seorang pria menanyaiku asal daerah. Cilacap, jawabku. Terus, ia langsung menyambung bahwa ia dari Sulawesi, dan pernah belajar di kampus yang sama sepuluh tahun lalu. Kini, ia ke Mesir sebelum melanjutkan perjalannya umrah ke Tanah Suci. Perawakannya tinggi ramping, rapi, memakai kaos lengan pendek, bertopi dengan tali DSLR melingkar di leher. Ah, ia fotografer ternyata. Entah dalam makna asli, ataupun sekadar suka memotret hal yang dilaluinya untuk diabadikan.

Kutaruh ulang buku Imam Syafii tadi, al-Risalah. Aku belum begitu membutuhkannya. Well, mungkin aku butuh, namun dengan tumpukan kitab yang belum aku baca semua di kamar, aku tidak tega untuk mengambil buku tersebut untuk lantas kuanggurkan selama beberapa minggu, menunggu antrian. Pun, kecenderunganku bukan dalam bidang fikih. Masih saja, aku suka membaca buku-buku tentang filologi, tafsir, al-Quran atau apapun itu yang menurutku menarik. Meski akhir-akhir ini sering membaca buku-buku akidah filsafat, aku belum begitu yakin bahwa aku serius tertarik dengan jurusan ini.

Ia melihatku yang meletakkan kembali buku tadi. Spontan, ia Tanya, "Sudah punya buku ini?" Belum, kataku. "Ayo ambil ini, ambil. Penting ini, harus diambil. Biar saya yang bayar." Eh eh ndak usah, Mas. "Udah gakpapa, aku bayar." Dengan sigap ia mengambil uang dari dompet, membayar, lantas pergi, menuju kampus. Ia ingin menunjukkan pada bapak yang bersamanya, letak dan bentuk toko buku yang ada di kampus.

Bergegas pergi, aku menyela Tanya, "Mas, jenengan siapa namanya?" Abdillah, jawabnya. Untunglah, aku sudah menebak, jika ia menjawab Abdullah, setidaknya aku tak akan terlalu terganggu dengan film-film beradegan semacam itu. 

Thursday, 7 December 2017

Sebuah Tanya

Mungkin ini termasuk minggu-minggu akhir di kuliah. Hari ini, Kamis 7/12 aku masuk ke ruang kelas selitar pukul 8.30. Telat bangun, karena entah apa, padahal semalam rasanya tidur di jadwal-jadwal biasa. Bedanya, sebelum tidur makan kue dulu, sama nendang-nendang balon, mainan bola ceritanya. Hehe. 

Gegara bangun telat, pun musim dingin, setelah shalat saya bergegas siap-siap. Sarapan sekenanya, terus langsung menuju terminal bus. Senengnya, ada bus Tiga Jim yang sedang bersiap. Itu artinya, aku akan sampai di kampus kurang dari setengah jam. Wah, bahagianya. 

Ruang kelas hari ini sepi. Maklum, mata kukiah semester satu sudah selesai, mayoritas. Pun untuk semester dua sudah dihentikan semua. Akhirnya jam pertama kosong. 

Banyak temen Mesir yang hadir. Mereka selalu rajin ngampus, apapun yang terjadi. Upaya mereka luar biasa. Bayangkan saja, setiap hari keluar mruput ke kuliah, naik kereta bawah tanah (Metro), bus, Tramco selama dua jam minimal perjalanan mereka tempuh. Pulangnya, selalu menunggu akhir kelas, merampungkan tuntas setiap hari di kelas tak mau ada yang ketinggalan satu pun. Yah, ngapain jauh-jauh kalo ngga sekalian pulang sore (bahkan malam), pikir mereka. 

Pagi ini entah mengapa dingin sekali. Sampe jaket kesayangan item panjang ini sesekali aku rapatkan ke badan. Dingin. Kulihat dari jendrla kelas ke luar, ada dedaunan yang bergoyang, bunga kuning yang entah apa namanya, dan mendung. Di sela itu semua, dengung obrolan temen  Mesir memenuhi ruang kelas. Ada yang belajar bareng, ada yang sekadar ngobrol, ada yang tidur (ngga hanya di Indo ternyata) ada yang entah ngapain. Mereka sibuk denga dunianya. 

Senengnya, pagi ini aku ketemu Sara, bisa duduk di deketnya pula. Langsung, kueksekusi diktatnya. Haha. Catatan tambahan dari dosen jadi hadiah tersendiri bagi mahasiswi yang ngga rajin-rajin banget ke kuliah, kek aku. Di tengah nembel catatan, Aisyah manggil: 'Hamidah, gumana kabar?! Kok kamu belum kirim pesan ke aku.' Mak. Aku langsung terenyuh. 

Temen Mesir selalu seneng kalo merasa dibutuhkan wafidat. Yah, mungkin ini tabiat semua orang sih, hanya entah mengapa, di saat-saat begini, mereka sangat dibutuhkan. Kena. Tentunya, dalam hal belajar dan seputar pemahaman diktat, ngga lebih. Kecuali yang memang kita dekat dengannya. 

Pertanyaan itu membuatku berpikir. Mestinya, aku memanfaatkan semua ini. 

Terlalu banyak waktu berlalu hanya dengan omong kosong. 

Semoga Tuhanku memaafkan.

Kampus Putri Gedung B, Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab. 

Friday, 24 November 2017

Sayembara Kecil a la Dr. Sonia



Sebagaimana biasa, hari Kamis menjadi hari istimewa tersendiri bagiku. Tauhid menjadi mata kuliah yang harus kita lalui di jam pertama. Bagiku, absen sekali berarti melewatkan pelajaran dari Dr. Sonia. Jika demikian, berarti saya akan melewatkan banyak momen indah selama beliau mengajar. Akhirnya, Kamis ialah hari yang berharga, apalagi setelah kejadian sepuluh pound lalu. Akan kuingat selamanya. 

Pernah dulu, ketika di bangku tingkat satu, saya punya harapan bagaimana caranya agar bisa berperan aktif di kelas, seperti Kautsar misalnya. Temen asal Turki ini berhasil membuatku merasa iri, sekaligus bahagia karena bisa berteman dengannya. Bisa dibilang, ia mahasiswi pendatang yang paling aktif. Dan Dr. Sonia sangat senang dengan mahasiswi yang aktif. Sehingga, Dr Sonia sangat seneng dengan Kautsar ini. Aku juga. Ah, ini mencoba pake kias mantik model pertama, dua premis yang punya kata/kalimat yang diulang (hadd al-awsath), satu di subjek, mubtada' (mawdlu'), satunya predikat, khabar (mahmul). Aha, belum begitu mantap. Saya belum benar-benar mempelajarinya. Kemarin jam terakhir nggak masuk, karena ada urusan. Heu.

Ceritanya, kemarin saya datang di kelas sekitar pukul delapan lewat setengah. Biasanya, saya ambil tempat duduk di sebelah kiri meja dosen. Karena agak lambat sampai di kelas, akhirnya saya hanya bisa duduk di sebelah kanan agak ke pinggir di deretan pertama. Ah, sudahlah. Yang penting bisa deket dengan meja dosen. Tak apa. Setengah jam kemudian, beliau masuk. Biasanya, beliau selalu memakai layar dan proyektor, dan seperti biasa, kita juga telah menyiapkan layarnya. Namun pagi itu, beliau hendak memberikan satu jenis keterampilan lain, dengan gaya khas di setiap kelas yang diampunya: munaqasyah (diskusi). Jadi, kelas segede itu rasa arena perlombaan debat ilmiah antarkelompok. Wah, bahagia sekali pokoknya. Kelas benar-benar hidup. Tidak monoton. 



Beliau menggulung kembali layar dan memulai kelas. Keterampilan yang ingin beliau ajarkan pagi itu ialah tentang berbicara (tahadduts) dan menelurkan suatu hukum (istinbath) dari buku diktat (muqarrar). Benar saja, PR yang minggu lalu beliau tanyakan dibahas pagi itu. Apakah perbuatan Allah disebabkan oleh suatu tujuan tertentu, ialah poin pembahasan kita kali ini.

Kelas berlangsung dengan sangat antusias, sebagaimana temen-temen Mesir selalu seneng berdebat. Masing-masing berusaha menguatkan pendapatnya dengan dalil, baik aqli maupun dari ayat dan Hadits. Kita membaca secara bergiliran materi yang tertulis di kitab. Satu waktu kita berdebat, satu lagi kita membaca dan menelurkan kesimpulan maksud dari teks yang tertera. Yah, untungnya kali ini kita memakai diktat yang terbilang istimewa. Diktat ini dibuat oleh Dr. Mahmud Ali Daqiqa, seorang anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar disertai rujukan kitab-kitab pokok yang mantap di bidang akidah. Seperti Syarh al-Mawaqif, al-Thawali' , Syarh al-Maqashid li al-Sa'd, Syarh al-'Aqa'id al-Nasafiyyah li al-Nasafiy, dan lain sebagainya. Kitab-kitab babon dari turats Islam. Sampai-sampai seorang senior di magister membuat pernyataan bahwa diktat ini sangat keren. Bahasanya mantap dan ini seperti diktat di dirasat ulya (pascasarjana).

Selepas pertanyaan tadi, kami masuk di pembahasan kenabian (al-nubuwwat). Sampai di subbab perbedaan nabi dan rasul, ada tiga pendapat yang tertera di sana. Pendapat satu dan dua menyatakan bahwa keduanya berbeda, dari segi perintah untuk menyampaikan (tabligh) dan kitab maupun syariat baru yang dibawanya. Pendapat ketiga menyatakan bahwa keduanya mutasawiyan, sama, setara. Di sini beliau menanyakan, apa perbedaan tasawi dan taraduf. Keduanya hampir sama. Bahkan saya pun menganggap bahwa keduanya sama, hanya istilah saja yang membedakan meskipun saya tahu, se-mirip-miripnya istilah dalam bahasa Arab, pasti ada bedanya. Benar saja, aku buka catatan mantik tahun lalu, kudapati kedua pengertian tadi memang berbeda. 

Sebagaimana biasa, Dr. Sonia selalu membuat sayembara di setiap kelasnya. Pun, tak jauh beda dengan kali ini. Siapa dari pelajar pendatang yang mampu menjawab, akan dihadiahi sepuluh pound Mesir. Wah, kebetulan saya baru baca. Hehe. Jadilah saya angkat tangan, dan menjawab. Taraduf (sinonim) ialah kata yang banyak rupanya namun memiliki makna yang sama. Kalau di bahasa Arab, kita mudah sekali bilangnya, seperti burr dan qumh (gandum), asad dan laits (singa). Tasawi ialah hal yang serupa dalam fakta, secara nyata, berbeda dalam pemahaman/konsepnya. Contoh kulliyyah dan jami'ah (universitas), insan dan basyar (manusia). Sontak setelah saya selesai, tepuk tangan memenuhi ruang kelas, Dr. Sonia selalu mengapresiasi seberapa kecilpun upaya yang kita berikan, apalagi bagi pendatang (wafidat). "Mumtaaz, shaffiqna laha ya Banaat."  Begitu kiranya ungkapan beliau.

Hemm. Bahagia, alhamdulillah. Akhirnya harapan saya tahun lalu untuk berperan ngomong di kelas kesampean. Ngomong gitu aja, padahal. Setidaknya, ini bentuk eksistensi bahwa saya ada di kelas saat itu. Saya harus ngomong. Bahwa wafidat juga memahami apa yang dijelaskan oleh dosen. Dalam hal ini, saya merasa Dr. Sonia punya cara menarik dalam melibatkan mahasiswinya di dalam kelas. Peran mahasiswi dalam menghidupkan kelas, bagaimana kita menyanggah pendapat lain, bagaimana kita tettap saling menghormati meski tidak sepakat, bagaimana menjadi pendengar yang baik, pun bagaimana cara menyampaikan yanng baik. Beliau sangat lihai dalam bidang ini. Di samping memang bidang inilah yang beliau tekuni, tak heran jika sangat matang, komprehensif dan sangat memuaskan. Secara tak langsung pula, beliau mendidik kita bagaimana cara berdebat yang baik, sebagaimana ada di buku-buku tentang Adab al-Bahtsi wa al-Munadharah.

Sayangnya, sejauh ini hanya beliau yang mempunyai metode seperti ini. Sangat kontras di rasa. Rasanya tak mau pisah, ingin terus diajar beliau. Mungkin, ustadzah Marwa hampir didahului olehnya, namun tetap saja saya harus menyadari bahwa keduanya ada di ruang lingkup yang berbeda. Dr. Sonia di tingkat universitas, dan usth. Marwa di tingkat pusat bahasa. Sehingga perbedaan objek ilmu yang seperti ini memberi dampak yang signifikan dalam bagaimana seorang guru mengajar dan memeberikan pemahaman. Beberapa menit kemudian, sesaat sebelum kelas usai, saya dipanggil dan diberi sepuluh pound yang tadi dijanjikan beliau. Diiringi tepuk tangan kali kedua. Aha, ternyata begini rasanya ditepuk-tangani temen-temen saat kelasnya Dr. Sonia. Bahagia? Tentu. Namun bahagia ini akan saya buktikan lagi dengan keseriusan dalam belajar dan memahami semua mata kuliah. Insya Allah. 

Saya bahagia, dan tentunya dibumbui rasa-rasa bangga, emm seneng aja gitu. Meski saya sadar, hal tadi sangat tidak seberapa. Karena apa yang saya sampaikan tadi merupakan hasil bacaan, bukan pemahaman. Jika ditanya seberapa paham pun, saya tidak berani menjawab seratus persen. Hanya modal keyakinan bahwa keduanya memang berbeda, namun saya tak bisa menghadirkan perbedaan dan konsep antarkeduanya, jika secara mendadak ditanyakan kepada saya. Maka, ini merupakan hadiah kecil saya di hari itu dari Tuhan. Allah selalu mengabulkan harapan saya. Sejauh ini melalui mata kuliah ini juga, rasanya saya tambah mantep bahwa tak ada apa-apa di saya, kecuali sebab limpahan rahmat-Nya. Bahkan jika kita bilang punya potensi, potensi itu merupakan anugerah dari-Nya, Subhaanahu wa Ta'aala. Dan ini sungguh melegakan. Bahwa saya punya Tuhan yang Mahakuasa, Mahakaya, Maha segala-galanya.

Bagi yang belum mendapat nikmat diajar sama Dr. Sonia, mungkin akan kurang paham bagaimana rasa ceritanya. Maka, saya sarankan: masuklah ke ruang kelas tingkat II Ushuluddin Banat, lantai dua gedung Studi Islam B, depan Fakultas Farmasi. Nanti ketemu saya juga di situ, wkwk. Ga penting banget si. Abaikan abaikan. :D

Dalam lantunan suluk shalat Jumat, Jumat 24 November 2017 di pukul 11.30 WLK. 

Sunday, 19 November 2017

Sekumpulan Pecinta Ahlul Bayt


Terdengar suara seorang ustadzah saat aku melepas sepatu di pintu utama masjid al-Azhar. Suara itu baru kudengar sekali ini, bukan suara Dr. Sonia ataupun lainnya yang pernah kukenal. 

Hari ini, Ahad 19/11/2017 aku bertandamg ke masjid, seusai kelas. Bus 80 coret tadi sebenarnya kosong, sehingga mahasiswi yang telah lama menunggu bergegas  masuk berebut tempat duduk. Bus tepat berhenti di depanku. Pintu terbuka, namun secara tak tertib mereka berebut masuk. Inginnya masuk duluan semua, akhirnya pintu penuh dan kesempatanku masuk duluan pun tertunda. Melihat pintu bus bagian belakang yang sepi, mestinga aku lari kesana. Namun, aku hanya terdiam melihat yang lain berpindah pintu, dan aku tetap menunggu di pintu tadi. Pasrah. Aku yakin aku akan masuk, meski berdiri menjadi suatu kepastian tersendiri. Haha ya Tuhan. Jalani setiap detail momen dengan percaya, maka hati akan tenang. 

Seusai turun dari bus mampir di Zad, sebuah toko roti di seberang terminal bus Darrasah. Menuju ke masjid, untuk sekadar menanggalkan kerinduan. 

Menarik. Sore ini, ada halakah ibu-ibu yang sedang mendalami sejarah Ahlul Bayt. Entah memakai kitab apa, yang jelas, ibu-ibu tadi dipimpin ustadzah yang siaranya terdengar sampai di pintu utama masjid. Beliau mungkin dukturah. Cara penyampaiannya enak, tegas. Di antaranya, mengulang tentang adab di majelis ilmu ialah termasuk tidak sibuk dengan gadget. Ketika itu ada seorang ibu yang sedang berbicara di telepon. 

Kemudian, tentang praktik keteladanan terhadap Ahlul Bayt. Rasul bersabda: "Addibū awlādakum hubba al-Qurān, wa hubba al-Nabiyy, wa hubba Ahli Baytihi". 

Lagi, beliau mengatakan: "Kullama zādat al-madaniyyah, qallat al-shihhah, kullama zādat al-rafāhiyyah, qallat al-ridlā". Semakin madani, semakin berkurang tingkat kesehatan masyarakat. Semakin jatuh dalam kenikmatan, semakin sulit untuk sekadar merelakan. 

Beberapa menit berikutnya, terdengar mikrofon dari ruwaq sebelah. Aha, aku yakin itu suara Dr. Hasan Usman, pengampu nahu di masjid al-Azhar. Kitabnya, Awdlah al-Masālik ilā Alfiyyah Ibni Mālik. Diktat nahu tingkat akhir. Selain ada juga, Syarh Ibnu Aqil di Rabu sore, sebelum jamnya Dr. Muhanna bersama Dr. Rabi' Ghafir. 

Ya Tuhan, mugi selalu diparingi taufik. 
Di bawah langit al-Azhar, di antara kumandang lantunan al-Quran. Rakaat terakhir shalat maghrib. 

Friday, 10 November 2017

Pepeling



Barangkali, mimpi menjadi sebuah momen tersendiri bagi seseorang. Entah disebut sebagai bunga tidur, sebagai refleksi pikir atas apa yang terlintas di dalam benak ketika siang hari, atau sebagai sebuah pertanda. 

Sebagian besar hariku akhir-akhir ini dipenuhi banyak mimpi. Bukan sembarang mimpi, mungkin. Karena entah mengapa, ada banyak hal yang kudapati darinya. Jawaban atas sebuah tanya, penanda atas sebuah perkara, penunjuk atas sebuah rasa, maupun pepeling atas dosa-dosa. Kiranya, yang terakhir inilah yang seringkali datang. 

Jika sebuah laku mempengaruhi segala sesuatu, maka aku tak cukup mendapat sebab untuk mendaku semua itu. Dilihat dari sisi manapun, sepertinya aku belum masuk kualifikasi santri ibu. Barakah shalawat Rasul, juga barakah al-Fatihah untuk Mbah Munawwir, Mbah Ali dan dzurriyyah mungkin, yang selalu memudahkan segala urusan, mengabulkan segala hajatku selama ini. Yarhamuhumullaah. Boten supe setiap ajeng deres, bakda shalat, alhamdulillah. 

Entah ke berapa kalinya, Selasa lalu (sekarang 10/11) ibu datang lagi. Kali itu, kita sedang di arena gerbang utama SMP Alma Ata, tempatku dulu menimba ilmu. Di gerbang situ, ibu dengan gaya khasnya mengajakku simaan, 20 juz. Entah acara apa di sana, intinya hanya poin bahwa ibu ngajak simaan bareng. Heu, dan seperti kali-kali terdahulu, akupun hanya meringis, tanpa mengiyakan maupun menolak. 

Semalem, Kamis (10/11), Syekh Abdullah juga menjumpaiku. Kali ini, aku mengajukan permohonan maaf karena masih ngelibur ngaji, sejak beberapa waktu lalu. Dan, mungkin karena kebangetan, beliau datang berkali-kali, mungkin ini kali ketiga atau keempat dalam dua bulan terakhir ini. Ya Allah, rasanya udah jelas pertanda, tapi terlalu keras hatinya. Belum ada semangat nderes yang menggebu, kendati beliau berdua sampun kerso menyambangiku. 

Bahagia, campur takut, harap-harap beliau berdua kerso mengakui daku sebagai santrinya. 

Beliau berdua datang berseling. Yang paling kuingat, Syekh Abdullah sebulan lalu mungkin, ketika bertemu di samping Azhar, aku salim dengan plegak-pleguk. Beliau hanya senyum, dan tanya mau kemana. Kedua, bertemu lagi di belakang Azhar, beliau menitipkan barang padaku dan memintaku untuk menjaganya sampai beliau kembali. Kemudian, ibu. 

Beliau datang, memintaku simaan entah dalam rangka apa. Rutinan mungkin. Kali itu, settingnya di mushalla komplek. Kemudian setelahnya, ibu memintaku menyelesaikan di sini, sesuai dengan jadwal khataman yang dibarengkan dengan haul, tahun depan sekitaran Februari. Kali ini, beliau ngendikan kalau ngga kesempatan ini sekarang, kapan lagi. Mungkin akan ada suatu hal yang terjadi. Aku hanya berharap, beliau semua baik-baik saja, panjang umur. Ibuk dan Syekh Abdullah. 

Ohya, setahun lalu, Syekh selalu datang di mimpi ketika aku tertidur dan belum sempat nderes. Padahal, waktu itu baru beberapa bulan daku ngaji ke beliau. Namun, beberapa pertemuan tersebut ternyata membuat chemistry yang cukup erat antara daku dan beliau. Ceritanya selalu berputar pada saat ketika aku ngadep dan belum lancar. Lantas beliau dengan jelas (sampai saat ini masih teringat) ngendika: "Dideres sek, ya, Nda. Kono ning buri". Seketika aku terbangun dibuatnya dan menyadari bahwa belum nderes sebelum terlelap tadi. Akupun cerita ke beliau. Beliau hanya tersenyum dan mendoakan dengan tulus: "Baarakallaah fiiik". Ah, adem sekali dengernya. 

Pernah juga, daku meminta untuk binnadzar sebagai sampingan, pun agar aku segera punya sanad, hehe. Beliau ndak kerso, terus dipeseni untuk nderes yang idah disetor aja setiap hari dua juz. 

Dan, kendati demikian, semua mimpi tadi masih tergeletak di sana. Daku belum mampu menangkap pesan, merealisasikan makna yang dikandung di dalamnya. 

Nderese tesih bioso wae. :(
Ya Allah, kerso paringi taufik. 🙏😭

Depan masjid al-Azhar, menuju tempat pulang. 
Jumat, 10/11/2017.

Sunday, 5 November 2017

Perjalanan Menuju Diri Sendiri


Seminggu yang lalu, pada Senin tepatnya, aku mulai belajar pada salah seorang senior di kajian. Syukurlah, rumahnya tak terlalu jauh. Hanya memang, sedikit mungkin sekitar 0,001 Masisir yang tinggal di daerah itu. Jadi, nambah rutinitas keseharianku yang semakin menjadikan rumahku hanya tempat untuk kembali dan sekadar menyelonjorkan kaki. 

Bagi beberapa orang yang melihat, mungkin orang-orang yang (terlihat) sibuk mampu menjalani hari-harinya dengan bahagia. Bertemu dengan siapa saja, membentuk relasi sosial pada seantero mahasiswa Indonesia di sini, atau minimal mempunyai teman yang bisa diajak ngobrol, meski sebenarnya tak terlalu penting. Intinya, ada teman dan  tak terlihat menyedihkan. 

Ah, orang-orang unik memang. 

Sepulang dari rumah tadi, kira-kira bakda Isya, terpukul rasanya hati ini. Ternyata, sekadar membaca saja belum bisa. Ditambah lagi, dengan kondisi mengenaskan seperti itu aku seringkali merasa punya kemampuan baca yang lumayan, jika dilihat dari teman-teman seangkatan. Lagi-lagi entah apa saja yang telah aku lakukan selama masuk tahun ketiga ini. Aku tak begitu yakin. Mungkin saja, aku hanya bermain dengan relasi, mencari eksistensi diri, namun masih belum menemukan diri yang sejati. Selama ini hanya tentang eksistensi yang rasanya, palsu. 

Tentang kebingungan mencari jati diri. Mungkin, masa-masa di usiaku kini masihkah bisa disebut dengan pencarian jati diri? Aku tak terlalu yakin. Mengapa, karena banyak di luar sana, teman sebaya yang kurasa telah mampu menemukan jati dirinya. Dalam satu bidang di antara sejuta bidang yang ada di dunia. Rasanya, mereka telah menemukan dan enjoy saja. Terlepas dari sudut pandang orang lain tentang kemanfaatan, kesungguhan, dan seberapa jauh bidang tersebut mengisyaratkan kondisi yang empunya. 

Selalu terdetak ingatan tentang betapa malangnya diri ini, seperti ini. Seringkali ada pikiran-pikiran yang menyusup, masuk ke kepala, nyempil-nyempil di antara sesaknya lalu lintas jalanan. Meski demikian, setidaknya hal itu mampu mengalihkanku dari bisingnya deruman bus, klakson-klakson Tramco yang terus mendesak, teriakan para penumpang, aih juga mobil-mobil pribadi yang saling berebut jalan, serta sesaknya bus ketika penumpang masuk berdesakan. Huft, ini perjalanan hidup. Menuju diri sendiri. 

Sampai di Sadis, penumpang berangsur turun. Kebanyakan mereka ialah mahasiswa yang kuliahnya di kampus II al-Azhar, kawasan kampus yang baru. Satu kawasan ini dipagari tembok yang tak begitu tinggi, membentang membentuk segi panjang—meski lebih mirip segi tak beraturan. Ah, mungkin trapesium, mungkin. Entah segi berapa. Di kawasan ini ada Pusat Bahasa al-Azhar, Fakultas Syariah, Gedung Program Pascasarjana, Auditorium Shalah Kamil, Gedung Rektorat Universitas, Gedung Pusat Arsip Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Fakultas Media, Fakultas Perdagangan, Asrama Mahasiswa Indonesia, dan gedung-gedung lain yang tak terhitung jumlahnga, di samping Gedung Studi Islam dan Bahasa Arab untuk putri. 

Perjalanan menuju kampus, selalu kusebut perjalanan menuju diri sendiri. 

Deret gedung yang menjulang, jalan layang yang selalu padat, pekuburan yang berdampingan dengan pemukiman, ramainya manusia di pinggir jalan, serta kawasan kampus yang jadi tempat belajar sekian tahun ke depan. Ah, bukan tempat belajar katanya. Tempat melatih metode pemikiran. 

Menuju diri sendiri, karena ketika kita mengunjungi suatu tempat, kita akan menemukan kembali diri kita yang dulu, di tempat itu, dengan paripurna. Meninggalkan suatu tempat berarti meninggalkan sebagian diri kita di tempat tersebut. Bukan hati yang tertinggal, namun jiwa. 

Dulu aku pernah belajar di Pusat Bahasa al-Azhar. Dua tahun yang lalu, kisaran. Tak hanya diktat dan ujian yang saya dapatkan, jiwa baru yang kini hidup bersama keseharianku ialah bekal terdalam yang pernah digoreskan Tuhan. Ada suatu yang hidup bahkan ketika diri ini tak lagi di sana. Pun, ada yang hilang ketika mengingat bahwa suatu saat, aku akan meninggalkan dengan ataupun tanpa alasan. Pusat Bahasa, melewati gedung seperti itu setiap hari membuatku menemukan kembali jiwa yang dulu pernah pergi. 

Meski begitu, kampus putri menjadi satu hal yang sama dengan Pusat Bahasa tadi. Kuliah selalu mengingatkanku bahwa hidup begitu cepat berlalu. Dengan atauoun tanpa kerja keras menghidupi rasa syukur yang diberi oleh Tuhan. Mungkin, hidup yang sungguhan hanya akan saya dapatkan dengan kesungguhan yang sungguh-sungguh, dan tentu dengan pertolongan Tuhan. 

Perjalanan menuju diri sendiri, saya menyebutnya seperti itu. 

Pagi yang dingin, Darrasa 5 November 2017.
Semoga selalu diberi taufik oleh-Nya. Aamiin.


Friday, 20 October 2017

Kesalehan dan Mimpi-mimpi yang Menyata

Gb: gedung Fakultas Kedokteran Gigi dilihat dari ruang kelas II Ushul, FDI Gd. B


Beberapa waktu ini, saya dan teman rumah sedang mengikuti salah satu film baru. Aktor yang memainkan peran Jaksa Jung ialah Lee Jong Suk. Sedangkan partnernya, diperankan mbak Suzy Bae (Suzy Aja). Karena efek kelas film di Sekolah Menulis Walisongo (SMW), saya mencoba memeras kepala, mencari hal yang menarik, yang layak, sehingga kegiatan menonton tidak menjadi mainstream, seperti kebanyakan nonton film. Akhirnya, membahas mimpi yang menyata mungkin satu hal yang menarik. 

While You're Sleeping (2017) menceritakan tentang mimpi—sebagimana judulnya. Mimpi yang datang ketika kita sedang tidur. Mimpi yang menyata, sebuah pertanda akan apa yang akan terjadi. Kadang saya berpikir, ternyata tak harus saleh banget untuk dapat wangsit dari mimpi. Weruh sak durunge winarah. Agaknya, ini yang terlintas di kepala saya ketika mengikuti pergantian scene yang ditampilkan layar mini dua puluhan inci itu. 

Terlalu memaksakan mungkin. Kadang, ketika kita masuk dalam ranah kesalehan, ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi bagi seseorang yang ingin wangsit tadi—atau sejenis itu. Mestinya, ada laku-laku yang bisa mengkuakifikasi bahwa anugerah kaweruh itu dekat sekali dengan kesalehan. Tentunya, dalam ranah yang berbeda, sih. 

Bolehlah, kita melihat beberapa dimensi dari kalangan liyan. Eh, terlalu kasar jika kita mengatakan itu. Karena sesungguhnya, nonton film yang paling kena efeknya ialah, mestinya kita merasa bahwa mereka dan kita sama-sama manusia. Itu hal yang cukup untuk melihat, mengamati dan mengambil pelajaran yang sekiranya memberi kemanfaatan. Ya manafaat dalam apa saja, pengalaman, cara pandang, nalar pikir, dan lain sebagainya. 

Korea mempunyai cara yang khas dalam menyampaikan film. Cerita-cerita drama yang romantis, melow, heroik, persoalan antara rasa, profesi dan masa lalu biasanya dicampur jadi satu. Yah, gara-gara itu pula, cara pandang terhadap film-film loyan oun semakin defensif. 

Mimpi, pada akhirnya bukan semata hal yang lalu. Ia sebagai bisa jadi sebuah pertanda, sebuah bunga tidur, atau hal yang ada lalu pergi begitu saja, tak merasa apa-apa. 

Mimpi, selain sebuah repetisi semu dan abstrak atas aoa yang kita pikirkan sebelum tidur, ia juga sebagai tolok ukur kesalehan. Seringkali kita melihat bahwa orang-orang yang saleh, selalu mimpi yang bermakna. Entah untuk kemaslahatan diri maupun umum, mimpi seringkali jadi cerminan seberapa tulus amal yang kita lakukan. Karena banyak amal saja tak cukup, maka saya katakan yang tulus. Karena sebagaimana kita tahu, Tuhan tak menerima apa-apa kecuali atas landasan tulus dan ikhlas. 

Dalam film tadi pun, tokoh yang mempunyai mimpi yang berarti ialah mereka yang punya kesalehan yang luhur dalam kesehariannya. Terlepas dari tradisi bahwa tokoh utama selalu baik, mimpi di sini digambarkan adanya satu kesalehan yang pernah dilakukan dengan begitu ikhlas. Kejadian tersebut saya kira yang membuat mereka diamanahi mimpi yang berarti. Kejadian yang saking tulusnya, mereka lupa bahwa mereka pernah melakukannya. Hal itu yang kemudian jadi wasilah bagi mereka untuk dianugerahi mimli sedemikian tadi. 

Karena kita sesama manusia, maka kesalehan di sini saya lihat secara sosial. Secara ritual, biarlah itu menjadi urusan dia dan Tuhannya. Nah, ini sesuai dengan kisah tiga pemuda yang terjebak di dalam gua, yang kemudian berwasilah dengan amal terbaik yang pernah mereka lakukan. Amal baik tadi, menjadi wasilah turunnya "anugerah" dari Tuhan, yang kadang kembali dengan berbanyak lipat dari apa yang kita lakukan. Kebaikan kecil menjadi sangat luhur dan mahal hanya karena sedalam tulus ikhlas yang mewarnainya. 

Saya seringkali melihat mimpi yang seperti tadi itu dengan anugerah. 

Kairo, 20 Oktober 2017 @ 12.33 CLT.
Ketika khotbah masjid sebelah usai. Bersiap menuju masjid al-Azhar, menadah untaian hikmah dari Dr. Muhanna. Semoga barakah kesalehan beliau tertadah oleh kita sekalian. 

Tuesday, 17 October 2017

Generasi Merunduk

abaikan, ini gak nyambung sama isi.


Ternyata, semakin ke sini semakin banyak hal perlu dipikirkan. Entahlah, mungkin sebuah keniscayaan ketika umur seseorang bertambah, ada tambahan beban yang kudu dipikirkan. Ah, mungkin ini hanya berlaku bagi kalangan yang tumbuh dengan pendewasaan yang benar. Buktinya, ada beberapa kawan yang, semakin besar, hidupnya terasa lebih nyaman. Misal, dikit-dikit bahasnya nikah. Sampe di lini masa Instagram pun, mayoritas foto yang mampang di deretan menu Search pun tentang pernikahan. Ah, mungkin petugas KUA di seluruh dunia sedang sibuk-sibuknya. 

Di sisi lain, ada banyak kabar yang melintas tentang santri yang juara. Ada lagi tentang mereka yang menemukan terobosan baru di minyak, tenaga listrik dan ranah tekno lainnya. Di belahan dunia sana, ada yang baru saja menapak kaki, memantapkan langkah baru menuntut ilmu. Di belahan selatannya, ada yang baru pindah ke Aussie, ikut suami menempuh master di Monash University. Ketika kita liat di globe, di bagian atasnya ada yang sedang ribut menyoal diksi pribumi yang dilontarkan salah satu pejabat baru. Sebegitu masifnya runtuhan puing-puing globalisasi membenarkan asumsiku bahwa saat ini semua menjadi transparan. Semua terlihat. Kegiatan apapun yang ada, sekali taruh di storyApp, seantero dunia bisa melihatnya. Transparan sekali. 

Meski demikian, entah mengapa efek sampingnya luar biasa. Gara-gara ada alat transparan tadi, semua jadi penuh pencitraan, pertama. Yah, ini terlepas dari mereka yang memungut puing-puing untuk didaur ulang, dimanfaatkan. Kedua, semuanya jadi merunduk, gara-gara sibuk berebut reruntuhan kecil tadi. Dan jujur saya, meski hanya punya satu, saya pun turut kena candu. Alesannya, banyak chat masuk. Ah, dengan culasnya saya pede mengatakan itu. Padahal, alesan aja. 

Generasi merunduk. Dari yang saya amati, benar-benar ada satu skip nilai yang hilang. Mereka yang biasa sibuk dengan gadgetnya cenderung pasif, cuek, dan apatis. Pasif dengan sekitar karena mereka sibuk mantengin layar. Kudu dua tiga kali manggil namanya kalo kita pengen ngajak dia berdialektika. Elah, ketinggian bahasanya. Ngobrol, lebih tepatnya. Jadi, telinga yang selalu terbuka setiap saat sudah terdistorsi fungsinya. Tak lagi ada respon cepat tanggap, aktif dan masif.

Cuek dan apatis, kebanyakan ini terjadi ketika sudah terakumulasi candu gadget. Selain merunduk, yang paling sering dikeluarkan paling gumam "hmm", atau jawab sekenanya "iya" atau tiba-tiba "apa sih" dengan ketus dan raut kesal ketika disebut nama berkali-kali. Gara-gara gadget, kita kurang ngobrol jadinya. 

Sunday, 15 October 2017

Sastra; Sebuah Ruang Tanpa Pencitraan



Sastra ialah cara terbaik untuk menyampaikan kata-kata. Setidaknya, meski saya bukan mahasiswi jurusan sastra, pun tak pernah belajar bagaimana seharusnya sastra, saya turut menikmatinya. Menikmatinya sebagai satu-satunya ruang yang bersih, jujur dan apa adanya. Menampilkan keindahan dengan lebih indah. Menceritakan sejarah kelam dengan tidak berlebihan. Membuka paradigma dengan kejujuran dan keterbukaan, tanpa dibumbui hawa-hawa panas nan penuh kepentingan. 

Entah, selama beberapa minggu di ujung liburan kemarin rasanya ada banyak perkara yang masuk dan terpaksa diolah oleh saraf-saraf di kepala. Beberapa pandangan yang setidaknya membuat saya tidak bisa berkata banyak seperti dahulu. Tergagu. Perkara-perkara yang setidaknya membuat saya berpikir bahwa hidup saya selama ini belum benar-benar berarti. Semua kata yang pernah saya tulis dan dilabeli sebagai makalah, ternyata tidak seintelek itu. Piagam-piagam, sertifikat dan amplop yang pernah saya terima ternyata hanya simbolis semata. Pujian, ujaran kebahagiaan yang pernah dilontarkan teman-teman pun hanya kata-kata semu yang ditutupi oleh sesaknya kepentingan, buramnya kaca mata dalam berpandangan ke depan, melihat yang benar-benar murni tanpa pencitraan, secara sadar maupun tidak. Entah mengapa, saya merasa tidak benar-benar hidup dengan baik. Saya hanya ikut-ikutan arus yang kian kemari kian membanggakan hal-hal yang bersifat materi. 

Hari ini, siang tadi tepatnya, saya tidak sengaja melihat salah satu foto di deretan menu Search di Instagram. Ternyata ia seorang yang terkenal. Ia seorang sastrawan kenamaan, baik di Masisir maupun di Indonesia. Sering diundang di kampus-kampus Indonesia, sering jumpa dengan seniman, sastrawan bahkan para kiai sepuh yang masyhur di telinga. Ternyata, ia santri yang waktu mondoknya lumayan lama. Dan ternyata, ia tidak sefanatik mereka (dan saya mungkin juga pernah) yang menggembar-gemborkan perkara-perkara simbolis yang dibangga-banggakan. Ia beraksi nyata. Ia berkarya. Ia tidak banyak kata. Ia larut dalam dunia asyiknya, sastra.

Setelah beberapa saat melihat-lihat postingannya--atau stalking gitu aja--saya teringat, terpikirkan kondisi diri. Sebenarnya saya siapa? Melihat beberapa kerabat, teman yang telah menjadi "orang," saya hanya tersenyum kecut. Haa, saya bukan siapa-siapa. Saya bukan apa-apa. Saya belum menjadi seperti mereka yang mampu menulis karya. Pun, ada satu scene, satu jenis kelompok masyarakat yang pernah saya kepingin menjadi bagiannya, namun akhirnya tersadar, itu tidak akan nyata. Akhirnya, pikiran saya terhenti bahwa saya harus memulai untuk hal-hal yang konkret. Bukan lagi ikut-ikutan mencari teman, turut mengambil bagian di kehidupan yang katanya modern ini sebab relasi dan komunikasi, atau bahasa kasarnya popularitas. Dan, lagi-lagi saya kepikiran bahwa, popularitas tidak ada artinya tanpa diri yang benar-benar berkualitas. Itu semua semu, menurutku. Mungkin, inilah bagian yang dinyatakan dalam al-Quran bahwa, dunia hanyalah tipuan belaka. Saling menipu dalam secarik kertas bertuliskan nama dan penghargaan. Saling menipu dan bersembunyi di balik emotikon WhatsApp. Saling pencitraan dengan mengapdet foto-foto berbaju kesalehan. Padahal, bajunya hanya dipake sekali dalam sebulan. Padahal, sebenarnya foto sama ulama tadi hanya kebetulan. Padahal, semua yang pernah dicapai hanya pemberian dari Yang Maha Menghidupkan. Meski begitu, seringkali kita mengklaim bahwa itulah capaian diri yang membanggakan. 

Dalam akun tadi, setidaknya ada angin yang mendesir, mengubah lamunanku bahwa hidup, mestinya lebih berarti dari apa yang kita pahami dalam makna kata "berarti" itu sendiri. Dalam artian, bukan sekadar bangun mandi makan pergi lalu kembali setelah bersosialisasi, namun ada bagian yang menjadi porsi diri, jiwa dan hati. Nyatanya, yang katanya bersosialisasi belum sepenuhnya mempunyai hati. Pun, yang mampu meraih predikat mahasiswa terbaik, atau apa terbaik belum sepenuhnya bijak, layaknya para penganggit sajak. Lagi-lagi, semua itu tadi hanya simbolisasi. Kita terkungkung dalam dunia modern yang merasa cukup dengan runtuhan puing-puing teknologi yang mengelabui. Tak lebih dari itu, semua yang kita temui menjadikan materi, lambang dan gambar sebagai esensi. Sebenarnya, sejauh mana kita memahami makna esensi? Entahlah, saya pun belum memahaminya dengan pasti. 

Sastrawan, mereka yang mengatakan esensi tanpa simbolisasi. Mereka mengatakan kebenaran tanpa nyiyir dan menafikan yang lain. Mereka mengutarakan pemikiran tanpa kertas mahal bertuliskan "hasil kajian." Mereka yang menumpahkan segala emosi tanpa menyakiti hati. Mereka yang menghidupi hidup, sebenar-benar hidup. Meski mereka tiada, kelak buah cipta dan rasanya yang akan terus berbicara. Menasehati para pemuda yang hidup pada masa setelahnya. Mengingatkan mereka akan betapa arifnya menghidupi kehidupan dengan luasnya keindahan makna, tanpa diracuni oleh bias-bisa pencitraan. Haruskah kita menjadi sastrawan?

Kairo, 15 Oktober 2017.
Ketika adzan masjid sebelah berkumandang. Senja telah lama berpulang ke peraduan. 

Bapak telah Memilih

 24 Februari 2023 Hari ini, tepat sebulan aku berada di Bangkok. Aku dan suami berangkat ke Thailand 24 Januari lalu. Sebelumnya, 18 Januari...